Legenda Klasik Harimau di Minangkabau

Dari Penjaga Kampung dan Nilai yang Kian Hilang

Legenda Klasik Harimau di Minangkabau
Di Minangkabau, pemahaman atau kepercayaan akan harimau menjadi sisi adat tersendiri. Foto: ist.

Serupa, Ani ,60, pencari kayu bakar dari Nagari Jawi-jawi, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Dalam perjalanan pulang, ia sempat terjebak dalam rimba lebih lima jam, berputar-putar tak tentu arah.  Hingga dia bersama putranya mencoba berseru agar diberikan petunjuk. Tidak lama berselang, dari kejauhan terdengar suara seperti orang memukul-mukul bambu. Ia pun mengikuti bunyian tersebut.  Sampai akhirnya, ibu tiga anak tersebut menemukan jalan pintas menuju pulang  yang sehari-hari memang sering dilewati warga peladang.

Kehadiran harimau, di hutan ketika tersesat, di kampung dalam kala tertentu, mengisyaratkan harimau sesungguhnya dalam keseharian warga kampung setempat, selalu ada. Harimau tersebut kadang mengisyaratkan keberadaan dirinya, dengan meninggalkan jejak-jejajk telapak kakinya pada tempat-tempat tertentu, selain bagi orang-orang tertentu terlihat langsung. Di saat musim durian misalnya, ada buah durian yang didapati warga dalam kondisi terbelah rapih tanpa terpisah dengan tampuknya. 

Dari Rizal Cardov Dt. Intan Sati, seorang Tuo Silek asal Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok yang juga pengasuh Perguruan Silek Harimau Kubung, di Nagari Cupak dan Kotobaru, harimau menurutnya merupakan maqam-nya silek. Maqam adalah semacam roh, yang pada akhirnya bisa menyatu dalam diri seorang pendekar Minangkabau. 

Tentu, kata datuk Intan Sati, tidak semua pendekar memiliki maqam harimau, meski mereka terbilang tangkas, mahir, serta lihai memainkan berbagai aliran silek Minangkabau. "Orang-orang yang memiliki maqam harimau itu, adalah orang-orang pilihan," katanya, seperti dilansir dari Padang Ekspres, Senin (29/9).

Dijelaskan Rizal, dalam ilmu silat raso (rasa), diikuti ketepatan, kecepatan, dan ketangkasan adalah hal yang diutamakan. Sebelum belajar lebih dalam, seorang calon pendekar terlebih dahulu harus mengenal dirinya, tuhannya serta menguasai ilmu agama secara lahir dan batin. Tak kalah penting, calon pendekar juga harus berhati lapang, penyabar, hingga mampu mengendalikan diri dalam situasi apapun. 

Hakikat ilmu silat di Minagkabau bukan untuk melumpuhkan lawan, namun memerangi diri sendiri terhadap hawa nafsu. Di lahir mencari kawan, di batin mencari Tuhan. Setelah diri dapat dikendalikan, dengan sendirinya maqam silek akan masuk ke dalam raga, hingga seseorang itu menjadi pendekar tangguh. Sekalipun seorang pendekar itu sedang tidak sadar ancaman bahaya tengah mengintai, namun secara reflek ia tetap dapat menghindar atau mengelak. 

Seperti idealnya seekor harimau, sangat peka, lincah, cekatan terhadap lingkungan, meski secara kasat mata cenderung terlihat tenang. 
"Lihat saja karakter harimau, di balik bawaannya yang tenang, pendiam, tersimpan karakter tangguh, kuat, serta lincah. Ketika sempat terusik, apalagi tersakiti, niscaya tak satupun hewan lain berani menandinginya. Begitu pula seorang pendekar yang ber-maqam harimau, juga lincah, tangguh," tandas Rizal.

Sempat dikisahkan bapak dua anak yang menguasai lima macam aliran silat (silek kinari, silek langkah ampek, silek langkah tigo, silek induak ayam, silek tuo aliran harimau), sewaktu belajar silat dengan gurunya, Cikmai, (alm) di Kotobaru, Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan, pernah mengalami peristiwa tak lazim.

DI Kabupaten Solok harimau tidak semata dikenal sebagai binatang buas. Bagi masyarakat perkampungan, memiliki pemaknaan khusus dibanding hewan lain.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News