Link and Match Dunia Vokasi Perlu Kompetensi dan Koordinasi Sinergis

Link and Match Dunia Vokasi Perlu Kompetensi dan Koordinasi Sinergis
Anggota DPR RI Fraksi PKS, Ledia Hanifa Amaliah. Foto: Humas FPKS DPR

Lebih lanjut legislator dari Fraksi PKS ini meminta implementasi kurikulum sekolah vokasi juga perlu pula diawasi dan dievaluasi secara berkala. Sebab kalau kurikulumnya sudah menitikberatkan pada soal ketrampilan, keahlian, link and match, maka pencapaian ketrampilan minimal dan kompetensi minimal dari setiap siswa dapat harus dilihat secara terukur.

Sebelum magang, sesudah magang, selama di sekolah, semua pencapaian pemahaman teori dan ketrampilan peserta didik harus terukur sesuai dengan kurikulum yang ada. Apakah akan melibatkan DUDI? “Bisa saja, ini artinya sekolah pun perlu proaktif membangun komunikasi dengan mitra DUDI agar terjadi implementasi kurikulum dengan kebutuhan link and match yang tepat.”

Terakhir politikus dapil Kota Bandung dan Cimahi ini juga mengingatkan pemerintah agar memastikan koordinasi yang sinergis antara Pemerintah Pusat dan Daerah untuk mewujudkan program revitalisasi pendidikan vokasi yang link and match dengan DUDI.

“Sebab dunia usaha itu kan berada di bawah tanggungjawab Pemerintah Kabupaten/Kottanggungjawab SMK berada di tangan Pemerintah Propinsi sementara Politeknik berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Pusat. Maka kalau satu sama lain kurang lancar ngobrolnya, koordinasinya dan belum satu visi misinya soal penguatan link and match pendidikan vokasi dengan DUDI ke depannya tentu pengokohan SDM unggul pun bisa terhambat,” katanya.(fri/jpnn)

Meskipun 70 persen waktu siswa digiatkan dalam kerja praktik lapangan namun pada kenyataannya masih banyak perusahaan mitra yang memperlakukan siswa hanya sebagai helper, bukan sebagai siswa magang yang tengah memenuhi target kerja sesuai kurikulum.


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News