Margaretha Solang, Memanfaatkan Kerang Darah untuk Pacu Pertumbuhan

Kerupuk di Stoples Berbahan Campuran Tepung Kerang

Margaretha Solang, Memanfaatkan Kerang Darah untuk Pacu Pertumbuhan
PENELITI KERANG: Margaretha Solang di Universitas Airlangga, Minggu (25/5).

jpnn.com - PEKAN-pekan ini, perasaan Margaretha Solang tengah senang-senangnya. Maklum saja, Senin lalu (12/5) dia baru saja dinyatakan lulus dari ujian terbuka program doktoral ilmu kesehatan di Universitas Airlangga.

Di hadapan sepuluh penguji yang separonya profesor, perempuan 47 tahun tersebut sukses mempertahankan disertasi tentang manfaat lain kerang darah. Di bagian akhir ujian, para guru besar itu pun menyatakan bahwa riset ibu tiga anak tersebut cukup bermanfaat dan layak diperhatikan pemerintah. Terutama untuk memperbaiki mutu gizi.

Selama kuliah, 3 tahun 8 bulan, Margaretha juga meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) yang membanggakan. Yakni, 3,9. ”Hasil resminya memang belum keluar. Tapi, kira-kira nilainya juga sebesar itu,” ungkapnya merendah.

Dalam risetnya, perempuan Surabaya berdarah Manado tersebut membeberkan manfaat kerang darah. Selama ini makanan yang sejatinya cukup lezat disantap tersebut makin dijauhi orang. Apalagi banyak anggapan bahwa kerang adalah binatang ”penyedot debu”. Artinya, apa pun jenis zat pencemar yang mengalir ke laut terserap oleh kerang. Tak heran, mengonsumsinya pun cukup berisiko.

Namun, keyakinan Margaretha lain. Menurut dia, potensi kerang di Indonesia cukup besar. Termasuk di Surabaya, misalnya Kenjeran. Kerang mudah didapatkan. Harganya murah. ”Rasanya sayang bila tidak ada nilai manfaatnya,” ungkap perempuan yang juga mengajar di Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo itu.

Di Kenjeran harga kerang darah hanya Rp 9 ribu per kilogram. Di tempatnya kerja, Gorontalo, harga kerang hanya Rp 4 ribu per kilogram. Bahkan, kebiasaan di luar Jawa, bila nelayan gagal mencari ikan, mereka membawa pulang kerang.

Sejak itu Margaretha mulai terpikir menjadikan kerang sebagai objek penelitiannya. Selama empat bulan penuh dia berkutat di laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Unair. Dia mulai mengurai kandungan zat-zat yang ada dalam kerang. Dan, wow, kadar zinc dan proteinnya cukup tinggi. ”Namun, untuk apa? Harus ditemukan manfaat langsungnya,” jelas ibu Christian Yulius, Joshua Manuael, dan Beatrice Magdalena itu.

Suatu ketika Margaretha mempelajari hasil riset kesehatan daerah terbitan 2010 oleh Kementerian Kesehatan. Rupanya, 35 persen balita di Indonesia mengalami persoalan stunting (bertubuh pendek). Itu terjadi karena konsumsi makanannya kurang kadar zinc dan protein. Balita pendek, selain membuat penampilan ketika dewasa kurang menarik, mereka tak bisa berpikir cerdas.

PEKAN-pekan ini, perasaan Margaretha Solang tengah senang-senangnya. Maklum saja, Senin lalu (12/5) dia baru saja dinyatakan lulus dari ujian terbuka

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News