Rabu, 19 Desember 2018 – 16:19 WIB

Melawat Ke Barat, Buku Petualangan Legendaris

Minggu, 25 November 2018 – 12:16 WIB
Melawat Ke Barat, Buku Petualangan Legendaris - JPNN.COM

jpnn.com - Balai Pustaka menerbitkan lagi buku Melawat Ke Barat karya Adinegoro, jurnalis legendaris Indonesia. Buku yang pertama terbit pada era 1930-an ini berisi catatan pelayaran sang wartawan dari Indonesia ke Eropa pada 1920-an. Pelopor jurnalisme traveler.
 
Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network
 
Sejak satu purnama lampau, hingga purnama yang ini. Dalam pengembaraan ke Pelabuhan Ratu, Pantai Selatan Sukabumi, Jawa Barat, banyak betul hal baru yang saya jumpai.
 
Tak hanya peninggalan sejarah yang hening di tepi lautan dan yang menyepi di dalam hutan. Kawan-kawan baru pun saya temukan.
 
Satu di antaranya Ismail. Omong punya omong, ternyata burung pipit memang terbang bersama burung pipit. Bangau bersama bangau. Harimau bergerombol sama harimau. Ismail rupanya pecandu buku, dan juga pengembara. Kami pun maota di kediamannya yang tersuruk di dalam hutan.
 
Ia cucu Adinegoro, tokoh pers Indonesia yang namanya diambung ke gelanggang; Adinegoro Award, anugerah tahunan bagi karya jurnalistik terbaik dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Diabadikan pula jadi nama jalan yang menghubungkan Kota Padang menuju Bukitttinggi; Jalan Adinegoro.
 
Jelang pamit melanjut pengembaraan, Ismail, jebolan filsafat Driyarkarya itu menghadiahi saya sebuah buku. Judulnya, Melawat Ke Barat, karya kakeknya.
 
Terima kasih, Ismail. Buku ini telah jadi teman yang baik. Dan sudah pula saya baca baik-baik.
 
Melawat Ke Barat melegenda pada masa lampau. Terutama di kalangan wartawan.
 
Dari Rosihan Anwar, Salim Haji Said mendapat cerita bahwa Melawat Ke Barat adalah buku reportase pertama yang ditulis seorang wartawan Indonesia.
 
Salim Said sendiri punya pengalaman unik dengan Melawat Ke Barat.
 
Katanya, pada 1969, dalam rombongan wartawan yang dikirim pemerintah Indonesia ke Belanda—termasuk dirinya—ada Syarifuddin, wartawan Medan yang senang sekali ketika ternyata rombongan itu juga dijadwalkan ke Paris.
 
Mengutip kalimat dari buku Melawat Ke Barat-nya Adinegoro, Syarifuddin berseru, “Jangan mati sebelum melihat Paris,” kenang Salim Said. Dan, sekian waktu kemudian, tak lama setelah kembali ke tanah air, Syarifuddin berpulang. 

Hingga pada masa itu, Salim mengaku, meski sering mendengar cerita orang tentang buku itu, sebetulnya dia belum pernah membaca Melawat Ke Barat. Barulah kemudian hari dia mencari dan membacanya.

“Saya berharap teman itu mengakhiri perjalanan hidupnya tanpa penyesalan. Bukankah dia telah melihat Paris sebelum ajalnya tiba?” tulis Salim Haji Said dalam pengantar Melawat Ke Barat terbitan terbaru Balai Pustaka, 2017.
 
Kutipan-kutipan kalimat Adinegoro dalam buku Melawat Ke Barat kabarnya memang acap dilontarkan pembaca Indonesia, terutama wartawan pada masa itu.

Adinegoro (1904-1967) lahir di Talawi, Minangkabau dengan nama Djamaludin. Beranjak dewasa dia beroleh gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adik M. Yamin, tokoh utama Kongres Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Djamaludin yang cukup aktif menulis, mulai memakai nama samaran Adinegoro dalam naskah-naskahnya ketika masih jadi pelajar di STOVIA. Nama yang membuatnya jadi terkenal.
 
Menguasai bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan tentu Belanda, pada 1926 Adinegoro berangkat dari Tanjung Priok dengan kapal Tambora milik Maskapai Rotterdamsche Lloyd.
 
“Kapal Tambora yang saya tumpangi itu tidak melalui Emmahaven (sekarang Teluk Bayur--red). Melainkan jalan ke Singapura dan Belawan. Sebab semenjak tahun 1923 perjanjian maskapai itu dengan Emmahaven sudah habis. Sejak waktu itulah segala kapal Rotterdamsche Lloyd melalui Selat Malaka,” tulisnya.
 
Adinegoro ada bercerita bahwa Rotterdamsche Lloyd, Maskapai Nederland dan Paketvaart merupakan raja lautan di negeri Belanda dan Hindia. 
 
“Maskapai Nederland dan Roterdamsche Lloyd memperhubungkan negeri Belanda dengan Hindia setiap minggu. Sedang Paketvaart maatschappij membawa segala barang-barang dan penumpang dari Betawiu dan Surabaya, ke negeri-negeri kecil di seluruh pantai Hindia dan juga ke Australia,” paparnya.
 
Hindia, merupakan negeri kepulauan yang kini bernama Indonesia.
 
Dari Tanjung Priuk, kapal yang ditumpanginya singgah di Singapura, Sabang, Colombo, Aden, masuk Laut Merah, tembus ke Terusan Suez, Port Said, Laut Tengah, kemudian turun di pelabuhan Marseille, Perancis.
 
Dari Marseille, Adinegoro naik kereta api 8 jam ke Paris melalui Lyon. Beberapa hari di Paris, ia ke Brussel, Belgia. Kemudian ke Belanda. Sampai di sini, Melawat Ke Barat jilid I berakhir. Buku itu terdiri dari beberapa seri memang.
 
“Dengan bekal bakat dan ilmu jurnalistiknya, Adinegoro secara teliti melaporkan apa yang dilihatnya di 15- 20 tempat yang dilalui dan disinggahinya,” tulis Taufiq Ismail dalam pengantar Melawat Ke Barat cetakan teranyar.
 
“Kita,” sambung Taufiq, “pembacanya 87 tahun kemudian, di tahun 2017 ini, akan tertarik membandingkan apa yang dahulu dilaporkannya itu, dengan apa yang ada sekarang, dan mengagumi gaya informatif penulisannya.”
 
Kisah perjalanan itu mulanya terbit bersambung di majalah Pandji Poestaka, terbitan Balai Pustaka. Kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada 1930. Cetakan kedua terbit tahun 1950.
 
Gaya bertutur Melawat Ke Barat memberi banyak sekali pelajaran. Tak sekadar reportase laporan pandangan mata. Ia juga melambungkan ingatan pembaca akan sejarah-sejarah kota yang dilalui.
 
Bahkan sejarah moda transportasi umum yang menghubungan Belanda dengan Indonesia. Sejarah bisnis pelayaran.
 
Tengoklah cerita yang dicuplikkan langsung dari Melawat Ke Barat berikut ini…   
 
Yang mula-mula sekali membuat perhubungan tetap ke Hindia yaitu Tuan Willem Ruys I. Dzn di Rotterdam. Pada waktu itu yang dipakai orang semata-mata kapal layar belaka.
 
Bulan Desember tahun 1860 Firma Willem Ruys en zonen memakai kapal api bernama Fop Smit yang dikirim tahun itu juga ke Hindia.
 
Tahun 1872 Maskapai Rotterdamsche Llyod terdiri; direksinya di tangan Willem Ruys dan Jos Hoven. Waktu itu kapitan-kapitan kapal yang digaji oleh maskapai itu ialah orang Inggris.
 
Baru dalam tahun 1883 maskapai itu mulai mengambil pegawai bangsanya sendiri.  Sekarang pegawainya boleh dikatakan orang Belanda belaka. Sedang yang jadi jongos-jongos kebanyakan orang Jawa dan Madura.
 
Jika gaya bertuturnya banyak memberi pelajaran bagi para pegiat jurnalisme traveler, narasinya sungguh memperkaya siapa pun yang menaruh minat pada kajian sejarah. Terutama maritim. Bukankah kini saatnya tak lagi memunggungi laut?
 
Yang disayangkan hanya satu hal. Buku yang penerbitannya sudah didanai oleh pihak keluarga Adinegoro ini, tidak diiringi promosi massif dari penerbit Balai Pustaka, lembaga pemerintah yang notabene menangani urusan bacaan rakyat.
 
Tak heran, sejak diterbitkan ulang pada 2017 lampau, keberadaan buku yang kisahnya digadang-gadang boleh disandingkan dengan Melawat Ke Timur-nya Marco Polo ini, hanya sayup-sayup terdengar.

Oiya, sedikit tentang Adinegoro. Tak lama setelah pulang dari pengembaraan, Adinegoro yang memang tercatat sebagai wartawan Pandji Poestaka diangkat menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut. (wow/jpnn)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar