Melestarikan Gambut dengan Menganyam Purun

Melestarikan Gambut dengan Menganyam Purun
Pengerajin purun di Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Foto: KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Upaya perlindungan gambut ternyata dapat menjadi peluang peningkatan ekonomi masyarakat. Hal ini terbukti dari kajian paludikultur di lahan gambut oleh Badan Penelitian dan Pengembangan LHK (BP2LHK) Banjarbaru, Badan Litbang dan Inovasi KLHK.

Peneliti BP2LHK Safinah S. Hakim mengatakan, salah satu tanaman rawa gambut, yaitu purun (Eleocharis dulcis), merupakan bahan baku kerajinan anyaman masyarakat lokal. Tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi tikar, topi, tas (bakul, kampil, anjat), alas meja, alas piring makan, map kertas, dan pot.

"Menganyam purun menjadi salah satu upaya dalam melestarikan gambut. Adanya budidaya purun dapat memelihara kondisi asli hutan rawa gambut, sehingga fungsi hidrologis gambut tetap terjaga. Dengan demikian, kelestarian flora fauna, juga mikroba yang ada di habitat tersebut juga lestari," tuturnya saat menjelaskan tiga fungsi pemanfaatan purun dari segi ekologis, sosial ekonomi, dan budaya.

Menurut Safinah, usaha kerajinan anyaman purun ini, dapat menjadi alternatif mata pencaharian masyarakat. “Hal ini tentu saja berdampak positif untuk mengurangi resiko pembukaan lahan gambut yang seringkali menjadi penyebab utama kebakaran gambut,” lanjutnya.

Pembuatan kerajinan anyaman purun ini rupanya telah menjadi budaya yang diwariskan secara turun-temurun bagi masyarakat lokal. Berdasarkan hasil penelitian, purun memiliki keunggulan karena sifatnya yang awet, dengan kandungan lignin sebanyak 26,4% dan kandungan selulosa sebanyak 32,62%.

Selain itu, Safinah juga menjelaskan bahwa purun bermanfaat sebagai penyerap limbah beracun, pupuk organik, perangkap hama padi dan juga biofilter.

Salah satu lokasi yang dikenal karena kerajinan purun ini, adalah Kampung Purun di Kelurahan Palam, Cempaka, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Banjarbaru, dengan dikukuhkannya Kampung Purun sebagai destinasi wisata di Kota Banjarbaru, pada tanggal 22 Januari 2016.

Inovasi pun terus dilakukan seiring dengan meningkatnya animo masyarakat dan permintaan pasar, seperti membuat alat penumbuk otomatis, modifikasi warna, dan padu padan dengan kerajinan decoupage.

Upaya perlindungan gambut ternyata dapat menjadi peluang peningkatan ekonomi masyarakat

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News