JPNN.com

Melinjo Berpotensi jadi Suplemen Cegah COVID-19

Rabu, 21 Oktober 2020 – 00:13 WIB
Melinjo Berpotensi jadi Suplemen Cegah COVID-19 - JPNN.com
Peneliti sekaligus guru besar Fakultas Pertanian Unej Prof Tri Agus Siswoyo saat menunjukkan bibit padi yang sudah diberi kandungan antihipertensi dari melinjo yang dikembangkan dalam skala laboratorium. Foto: ANTARA/HO-Humas Unej

jpnn.com, JEMBER - Peneliti sekaligus guru besar Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Tri Agus Siswoyo mengatakan, melinjo atau tangkil (Gnetum gnemon) sebagai suplemen super yang juga punya potensi sebagai suplemen untuk mencegah COVID-19.

"Kandungan antikanker di melinjo berpotensi paling besar menyembuhkan kanker paru-paru, sehingga melinjo punya potensi sebagai suplemen untuk mencegah COVID-19 yang juga menyerang pernapasan manusia, tapi tentu harus melalui penelitian lebih lanjut," katanya di Jember, Selasa (20/10).

Saat melakukan riset melinjo dalam rangka post doctoral di Gyeongsang National University, Korea Selatan, pada tahun 2019, Tri Agus menemukan kandungan antikanker pada melinjo berpotensi menjadi obat bagi lima macam penyakit kanker.

"Dari penelitian yang saya lakukan, melinjo memiliki kandungan protein dan nonprotein yang banyak mengandung zat antihipertensi, antioksidan, antiperadangan, antikanker yang berguna bagi tubuh manusia," tuturnya.

Ia mengatakan pihaknya sedang mengembangkan kandungan protein dari melinjo yang berguna bagi antihipertensi, caranya adalah dengan mengisolasi protein dari melinjo hingga menghasilkan peptida aktif yang dengan bantuan bakteri tertentu kemudian akan dimasukkan ke padi, sehingga padi tersebut akan mengandung antihipertensi.

"Padi adalah sumber makanan pokok masyarakat Indonesia, sehingga diharapkan dengan adanya padi yang mengandung antihipertensi maka penderita darah tinggi yang mengkonsumsinya akan sekaligus mengkonsumsi obat," katanya.

Tri menjelaskan, padi yang memiliki kandungan antihipertensi dari melinjo dikenal sebagai nutraceutical, dengan kata lain makanan sebagai obat dan obat sebagai makanan, namun perlu diingat karena masih perlu penelitian lanjutan untuk dapat dinikmati oleh masyarakat.

"Itu tergolong sebagai produk rekayasa genetika yang harus melewati sekian banyak prosedur pengawasan agar benar-benar terjamin keamanannya," ucap guru besar biokomia tanaman pertanian itu.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
rama