Menelusuri Jejak-Jejak Komunisme di Ulan Bator, Mongolia
Patung Lenin dan Monumen Soviet Tetap Berdiri Tegak
Jumat, 21 September 2012 – 00:01 WIB

Monumen Zaisan Hill untuk mengenang komunisme di Ulan Bator, Mongolia. Foto : Farid Fandi/Jawa Pos
Pemilihan Umum 2012 menjadi tonggak penting sejarah politik Mongolia. Kali pertama Partai Demokrat menjadi pemenang pemilu dengan jumlah suara 35,32 persen, mengalahkan MPRP yang memperoleh 31,31 persen.
Sisa-sisa perselisihan politik antarpartai masih terasa saat saya tiba di Mongolia awal Agustus lalu. Pemerintahan yang berkuasa masih dalam proses transisi. Calon perdana menteri dari Partai Demokrat Norov Altankhuyag ditentang DPR setempat. Koalisi Partai MPRP yang memiliki kursi lebih banyak di DPR mengajukan nama ketua umum mereka, U. Enkhtuvshin, menjadi perdana menteri.
Namun, ketegangan itu akhirnya cair begitu Altankhuyag diputuskan menjadi perdana menteri dalam sebuah pemilihan yang berlangsung alot. Kondisi chaos yang diprediksi akan pecah tidak terjadi.
Chimska Mistig, mahasiswi National University Mongolian, asal Provinsi Khentii mengatakan, kemenangan Partai Demokrat memang membawa kegairahan baru bagi negerinya. Di banyak tempat, anak-anak muda dari golongan menengah mengorganisasi diri untuk mempromosikan partai tersebut. Chimska sadar bahwa MPRP yang berpengalaman sejak 1921 sulit dikalahkan. Kepercayaan rakyat kecil masih sangat kuat.
Hingga 1990, Mongolia berada di bawah pemerintahan komunis. Jejak-jejaknya sampai kini masih terlihat, meski eranya telah berubah. Wartawan Jawa
BERITA TERKAIT
- Semana Santa: Syahdu dan Sakral Prosesi Laut Menghantar Tuan Meninu
- Inilah Rangkaian Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Semarak Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Sang Puspa Dunia Hiburan, Diusir saat Demam Malaria, Senantiasa Dekat Penguasa Istana
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu