Mengingat Kembali Sang Pendekar Pena

Mengingat Kembali Sang Pendekar Pena
Menpora Imam Nahrawi. Foto: Kemenpora

jpnn.com, JAKARTA - Mahbub Djunaidi, sosok aktivis dan politisi, lebih dikenal lewat tulisan-tulisannya yang satir dan jenaka di berbagai koran, tabloid, dan majalah di penghujung akhir Orde Lama hingga beberapa tahun menjelang tumbangnya Orde Baru. Mantan Ketua PWI periode 1965-1970 ini menghembuskan napas terakhirnya bersamaan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 1995.

Meski sudah lebih dari dua dekade, ingatan tentangnya dari para keluarga, sahabat, kolega masih terasa begitu nyata dan hidup.

Ingatan-ingatan itu akan dapat kita jumpai saat membaca buku “Bung Memoar tentang Mahbub Djunaidi”. Sosok Mahbub Djunaidi yang begitu dekat dengan keluarga, berhasil digambarkan oleh penulis Iwan Rasta dan Isfandiari MD –yang tidak lain dan tidak bukan adalah putra Mahbub- dengan sangat nyata.

Isfan menceritakan bagaimana Mahbub tak mau dipanggil oleh sebutan apa saja kecuali dengan “Si Bung”. Nggak cuma anaknya panggil si Bung, cucunya juga nggak boleh panggil kakek atau engkong. Cukup “Bung” saja (hlm. 17), tulisnya. Mahbub tidak ingin merasa tua, pikiran dan jiwanya selalu muda.

Ada juga beberapa kesaksian dari para sahabatnya, salah satunya adalah Jakob Oetama, Sekjend PWI di periode yang sama dengan Mahbub. Baginya, Mahbub adalah manusia yang khas dan berkarakter. Saat dia menulis kritik, kritik-kritik tajamnya disampaikan dengan cara yang berbeda, tidak seperti orang lain pada umumnya yang disampaikan dengan kaku dan cenderung uring-uringan. Mahbub menuliskan kritiknya dengan humor, luwes, sederhana, tidak meledak-ledak.

Dari gaya tulisannya yang penuh tawa namun nyentil itulah Mahbub berhasil mempengaruhi orang-orang. “Tulisannya menjadi trendsetter itu waktu. Dia mempengaruhi public opinion,” kata sohib karibnya Ridwan Saidi. (hlm. 33).

Mahbub dalam tulisan-tulisannya hampir selalu menggunakan humor untuk melihat fenomena kehidupan. Humor adalah cara Mahbub untuk mengajak seseorang masuk ke dalam suatu masalah, lalu melihat masalah dengan bahasa keseharian yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan, jauh dari kesan kaku dan formal. Humor dijadikan sebagai senjata untuk menggelitik sekaligus mengkritik pemerintah yang lalai.

Dalam buku ini pembaca akan menjumpai kembali beberapa tulisan jenaka nan jahil Mahbub yang pernah tersiar di berbagai surat kabar dan majalah.

Mahbub Djunaidi, sosok aktivis dan politisi, lebih dikenal lewat tulisan-tulisannya yang satir dan jenaka.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News