Mengukur Kesejahteraan Petani Tak Bisa Hanya Memakai NTP

Mengukur Kesejahteraan Petani Tak Bisa Hanya Memakai NTP
Seorang petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sedang memanen padi. Foto/ilustrasi: Ayatollah Antoni

Menurut Sidi, ada satu keunggulan NTP, yaitu angka IB sebenarnya menggambarkan perubahan indeks harga seluruh pengeluaran petani baik untuk keperluan belanja faktor produksi, pangan, sandang, papan dan lainnya sehingga dijadikan sebagai ukuran inflasi di pedesaan. 

Selanjutnya apabila angka IB dipersempit hanya untuk pengeluaran faktor produksi untuk bertani, maka rasio IT dengan IB disebut NTUP. Yaitu rasio indeks harga yang diterima petani dibandingkan dengan indek harga yang dibayarkan petani untuk proses produksinya.

"Hal inilah yang menyebabkan walaupun NTP nasional sejak Januari hingga Juni 2017 selalu di atas 100, namun NTP tanaman pangan masih di bawah 100.  Hal ini karena indeks harga yang dibayarkan petani tanaman pangan untuk seluruh pengeluaran rumah tangganya lebih tinggi dari pada indeks harga yang diterima dari usaha taninya," paparnya.

Sidi menilai terjadinya hal itu disebabkan inflasi terutama di pedesaan yang berdampak kepada daya beli ke petani tanaman pangan. Namun demikian, bila dilihat kemampuan usahatani petani tanaman pangan, terbukti feasible dan masih surplus nilai NTUP di atas 100.

Skor NTUP tanaman pangan selama enam bulan terakhir rerata 103,54, dan NTUP bulan Juni 2017 sebesar 104,38 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari rerata enam bulan terakhir.  

"NTUP baik untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat dan peternakan selalu di atas 100 artinya surplus yaitu indek harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan indek harga yang dibayarkan petani untuk usahataninya," terangnya.

Sementara peneliti di Suropati Syndicate Alhe Laitte berpendapat, terdapat kelemahan parameter NTP untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Beberapa hasil kajian menyatakan penggunaan asumsi tingkat produksi yang tetap (indeks Laspeyres) dalam NTP dinilai kurang relevan.

Pasalnya, dengan kuantitas tetap menunjukkan NTP belum mempertimbangkan kemajuan produktivitas pertanian, kemajuan teknologi dan pembangunan.  "NTP lebih tepat untuk mengukur daya beli petani, sedangkan ukuran kesejahteraan petani, tidak hanya terbatas daya petani, melainkan mencakup aspek lain yang lebih luas," sebutnya.

Hingga saat ini para pakar dan pengamat masih memperdebatkan tinggi rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai cermin tingkat kesejahteraan petani.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News