Minggu, 23 September 2018 – 03:34 WIB

Mengurai Masalah Kemacetan Parah yang Juga Terjadi di Australia

Rabu, 12 September 2018 – 16:00 WIB
Mengurai Masalah Kemacetan Parah yang Juga Terjadi di Australia - JPNN.COM

Berpergian naik mobil di jalanan Australia bisa juga memakan waktu lama, meski tidak semua orang menganggapnya sebagai hal yang buruk.

Tapi bagi sebagian, menyetir lama menuju kantor dan kembali ke rumah benar-benar membuat kesal.

"Hal yang paling buruk dari berpergian naik mobil adalah stress."

"Tak tahu apa yang akan terjadi di jalanan, seperti kecelakaan atau mogok."

Adam Rosewarne, pria berusia 26 tahun yang bekerja sebagai analis sistem keuangan di Sydney adalah salah satu yang mengalami kemacetan buruk di Australia.

Ia bisa menghabiskan waktu 50 sampai 1 jam dan 40 menit di dalam mobil, dari hasil perhitungan Google.

Dua titik berpergiannya adalah dari kawasan Grays Point di Sydney Selatan menuju Macquarie Park di sebelah utara, termasuk juga dari pusat kota Sydney ke Macquarie Park.

Meski kantornya memberikan keringanan soal jam berapa ia bisa masuk, ia tetap terjebak di jam-jam sibuk.

Adam adalah dari 2.000 warga Australia yang mengajukan diri agar waktu perjalanannya dipantau oleh ABC.

ABC menggunakan aplikasi Google Maps API setiap hari kerja selama sebulan di bulan April untuk mengetahui berapa lama perjalanan, dengan mendeteksi kemacetan secara real time.

Tinggalkan mobil

Kemcetan yang panjang bisa mempengaruhi kesehatan bagi pengemudi dan pengguna jalan.

Profesor Trevor Shilton, juru bicara soal aktivitas fisik dari Heart Foundation, mengatakan ada hubungan antara bagaimana orang-orang pergi ke kantor dengan indeks massa tubuh, atau BMI. BMI ini menjadi kunci untuk mengukur obesitas.

"Jika kita berpergian lama atau duduk terus selama bekerja, maka penting untuk mencari cara agar bisa berdiri dan bergerak seharian," ujarnya.

"Jalan untuk mendapat makan siang, berdiri saat angkat telepon, berjalan untuk berbicara dengan teman kantor, dan jika memungkinkan, tinggalkan mobil."

Ia mengatakan mereka yang menggunakan kendaraan umum rata-rata hampir sama dengan berolahraga selama 41 menit, dibandingkan hanya setara 8 menit bagi mereka yang naik mobil.

Sebuah studi dari University of Melbourne yang dirilis tahun lalu menghubungkan mereka yang memiliki situasi seperti Adam, atau berpergian lebih dari enam jam per minggu, juga memiliki dampak bagi kesehatan mental.

Salah satu penulis studi tersebut, Allison Milner menjelaskan dampak langsung dari berpergian jauh pada kesehatan mental memang 'kecil'.

Tapi, penelitian tersebut menemukan mereka yang terkena dampaknya adalah yang tidak tahu bagaimana dan kapan mereka bekerja.

"Mereka lebih tidak mungkin untuk bisa memilih pergi jam berapa dan mungkin jadi kurang mampu untuk bernegosiasi agar bisa bekerja dari rumah."

Tidak lebih dari 30 menit

'Marchetti's constant' adalah sebuah fenoma yang namanya diambil dari seorang pakar fisika asal Italia, Cesare Marchetti, dimana menunjukkan orang-orang tidak siap untuk berpergian ke kantor lebih dari 30 menit.

Alokasi 30 menit ini telah digunakan oleh banyak perancang kota dan menjadi terkenal di Australia setelah mantan PM Malcolm Turnbull mempromosikan gagasan "kota 30 menit" menjelang pemilihan 2016.

Tetapi kampanye ini juga menyoroti masalah transportasi di pinggiran-pinggiran kota besar Australia.

Rata-rata waktu pulang pergi selama sepekan bagi pekerja penuh di kota-kota terbesar di Australia meningkat hampir 20 persen dari 2002 hingga 2011.

Di Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth, waktu rata-rata yang dihabiskan untuk pergi ke tempat kerja adalah di atas 30 menit per hari.

Artinya, banyak warga Australia yang berada di batas 30 menit tersebut.

Penyebab utama: Pertumbuhan penduduk

Nathan, warga lainnya, menghabiskan waktu hampir sama dengan Adam untuk berangkat dari kawasan Fitzroy di Melbourne menuju kawasan Mount Helen, Ballarat yang berada di luar Melbourne. Tapi ia bisa lebih dua kali dari Adam.

Ia mengatakan waktu yang dibutuhkan benar-benar jadi sebuah pengorbanan untuk bisa sampai ke kantor dari rumahnya.

Tapi begitu ia berada dibalik setir, ia bisa menikmatinya dengan "memiliki waktu untuk mendengarkan podcast, atau radio, sambil melihat kemacetan di jalur yang lain."

Sementara bagi Nick, ia menghabiskan lebih lama di mobil dibandingkan Adam dan Nathan. Ia harus berangkat dari kawasan Loxford ke Parramatta di sebelah barat pusat kota Sydney.

Biasanya ia butuh waktu dua jam, dengan kecepatan 70 kilometer per jam dan ia nyaman mengendarainya.

"Luar biasa dengan apa yang biasa kita lakukan, sudah lama saya mengalaminya dan tidak lagi keberatan," katanya.

Penyebab utama tersendatnya lalu lintas adalah pertumbuhan penduduk, menurut Terry Lee-Williams, seorang penasehat strategis transportasi.

"Saat kemacetan meningkat ke titik sangat rapuh, dengan kapasitas jalan sangat terbatas, hingga insiden sekecil apa pun bisa menyebabkan gangguan yang signifikan," katanya.

"Untuk membuat arus lalu lintas lebih baik, kita perluk sekitar 5 hingga 7 persen penurunan di jam sibuk."

"Sangat sulit dicapai, karena layanan transportasi umum yang ada berada di bawah tekanan luar biasa, dan menekan lebih dalam itu sulit."

Pembangunan jalan belum tentu atasi kemacetan

Pemerintah Koalisi dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatan pendanaan untuk proyek-proyek kereta api, namun lebih banyak dibelanjakan untuk pembangunan jalan-jalan.

Bahkan proyek kereta api paling terkenal untuk tujuan bandara Melbourne senilai AU$5 miliar, atau lebih Rp 50 triliun, hanya mendapatkan pendanaan AU$250 juta, atau lebih dari Rp 2,5 triliun dalam empat tahun ke depan.

Mungkin sepertinya masuk akall dengan jalan yang lebih banyak dan lebih luas akan mengurangi kemacetan, tetapi efek jangka panjang lebih rumit, menurut Terry.

"Membangun lebih banyak jalan ke sejumlah tujuan utama tidak menyebabkan kemacetan berkurang," kata Terry.

Dr David Bissell, seorang ahli geografi di University of Melbourne, mewawancarai 53 warga Australia untuk sebuah buku baru berjudul 'Transit Life'.

Penelitiannya menemukan meski banyak yang menganggap perjalanan mereka negatif, mereka telah beradaptasi untuk bisa menikmatinya.

Meski perjalanan dengan mobil memiliki kesan adalah sebagai 'membuang waktu', Dr David beberapa orang malah menikmatinya.

Saat ada peluang besar bagi mereka menggunakan transportasi umum untuk membaca email atau buku, banyak pengemudi masih mengambil kesempatan untuk menelepon acara radio, mendengarkan podcast, atau sekedar memikirkan sesuatu.

Artikel ini telah dirangkum dari digital interactive story dalam bahasa Inggris, yang bisa dibaca disini.

 
SHARES
Komentar