Mentan Tetapkan Program Tanam di Lahan Rawa, Akademisi IPB: Jadi Penyelamat Pertanian

Mentan Tetapkan Program Tanam di Lahan Rawa, Akademisi IPB: Jadi Penyelamat Pertanian
Praktisi dan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) University Prima Gandhi. Foto: dok Kementan

"Sudah banyak juga kisah sukses dari program tanam padi di lahan rawa ini. Ketika saya ikut dalam program menanam padi pada 750 hektare lahan rawa di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, tahun 2018 lalu, mayoritas sekarang sudah banyak yang panen," ujarnya.

Gandhi yang sedang berkuliah doktoral di Tokyo University of Agriculture ini optimistis kebijakan akselerasi luas tanam yang digagas Menteri Amran ini akan mampu mampu menjadi penyokong utama ketersediaan beras di dalam negeri.

Sebab, potensi beras yang dihasilkan dari penanaman padi di lahan rawa ini sangat besar lantaran memiliki ketersediaan air secara insitu.

"Dengan teknologi dan inovasi yang sudah tersedia saat ini, maka menanam padi di lahan rawa kini sudah sangat mudah dilakukan," terangnya.

Tercatat, sedikitnya terdapat tiga puluh lima varietas padi unggul adaptif lahan rawa pasang surut dan rawa lebak, di antaranya inbrida padi rawa (Inpara) 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9, inbrida padi irigasi (Inpari) 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan, yang seluruhnya siap untuk dibudidayakan.

"Tentunya belajar dari kekeringan panjang yang terjadi dua tahun belakangan yang menyebabkan hektaran sawah puso, maka ketersediaan air tidak dapat ditawar lagi. Sebab lahan rawa ini memiliki cadangan air sekalipun musim kemarau panjang," ucap Gandhi.

Menariknya, sambung dia, kualitas beras yang dihasilkan justru jauh lebih baik.

Sebab, beras yang dihasilkan melalui penanaman padi di lahan rawa mineral, kaya akan Selenium (Se) dan Besi (Se).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menetapkan program menanam padi di lahan rawa mineral sebagai program unggulan Kementerian Pertanian pada 2024.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News