Mereka yang Kabur dari Suriah Khawatir dengan Pemulangan 'Pengantin Islamic State' ke Australia

Mereka yang Kabur dari Suriah Khawatir dengan Pemulangan 'Pengantin Islamic State' ke Australia
Mohamed Ibrahim (kiri) yang merasa aman berada di Australia jauh dari teror ISIS. (ABC News: Tim Swanston)

"Seorang perempuan menolak memakai cadar dan mereka mencukur semua rambutnya di depan kami. Katanya kalau terjadi lagi, ia akan dibunuh," katanya.

Mohamed, Maisaa dan ketiga anak mereka melarikan diri dari Suriah pada tahun 2019 dan berhasil datang ke Sydney.

Keputusan Pemerintah Australia di bawah Perdana Menteri Anthony Albanese untuk menyetujui penjemputan para perempuan dan anak berkewarganegaraan Australia mengembalikan ingatan Mohamed, yang sebenarnya ia ingin lupakan.

"Rumah kami dirusak, dalam perang tidak ada yang namanya kehidupan. Tidak ada kedamaian. Hanya ada ketakutan. Dan jiwa kami lelah," katanya.

Menurut Pasukan Demokratik Suriah, kamp Roj, yang berbatasan dengan Irak, menampung 60.000 warga.

Pasukan Demokratik Suriah sebagian besar terdiri dari pasukan militer yang didukung Amerika Serikat dan dibentuk saat perang Suriah, yang bertempur melawan kelompok IS dan pasukan Suriah di bawah kepemimpinan Bashar al-Assad.

Kamp tersebut dipandang sebagai batu loncatan bagi mereka yang berharap bisa dipulangkan ke negara asal setelah bergabung dengan IS.

Kebanyakan perempuan Australia di kamp tersebut sudah berada di Suriah sejak 2014 dan berpindah-pindah di sekitar area pengungsian sejak kejatuhan Khalifah di tahun 2019.

Mohamed Ibrahim, yang melarikan diri dari Suriah, merasa khawatir dengan pemulangan perempuan-perempuan Australia yang pernah menikah dengan anggota kelompok 'Islamic State'

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News