Meretas Jalan Inklusi: Memperjuangkan Kesempatan Penyandang Disabilitas dalam Pekerjaan

Oleh: Nadya Puspita Adriana, S.Psi, M.Psi

Meretas Jalan Inklusi: Memperjuangkan Kesempatan Penyandang Disabilitas dalam Pekerjaan
Nadya Puspita Adriana, S.Psi, M.Psi. Foto: Dokumentasi UPJ

jpnn.com - Perkembangan dan pembangunan di Jakarta semakin pesat, dapat dilihat dari banyaknya lowongan pekerjaan yang disediakan pemerintah dan pihak swasta.

Banyak lowongan kerja akan menambah persaingan untuk mendapat pekerjaan semakin tinggi.

Kita bisa lihat dari berbagai macam pemberitaan di media sosial tentang para pencari kerja yang rela untuk mengantre dan berdesak-desakan demi mendapatkan kesempatan hingga adanya tindakan kekerasan ketika dalam pekerjaan.

Persaingan yang tinggi baik dalam mencari pekerjaan dan di dalam pekerjaan menjadikan manusia memiliki nilai egosentris sendiri demi memuaskan hawa nafsu dalam kesuksesan.

Hal ini dapat terjadi pada siapapun dalam konteks pekerjaan, salah satunya adalah penyandang disabilitas.

Tindakan persaingan ini akan menimbulkan gesekan-gesekan internal dan stereotip dari masyarakat yang memilki pandangan negatif terhadap penyandang disabilitas hingga melakukan tindakan diskriminatif dan kekerasan.

Menurut laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), terdapat 987 kasus kekerasan yang dialami oleh penyandang disbilitas, 84 terjadi pada laki-laki dan 786 terjadi pada perempuan.

Di dalam dunia pekerjaan, penyaluran pekerjaan pada penyandang disabilitas juga masih minim.

Penyebab 71,4 persen penyandang disabilitas menjadi pekerja informal adalah kurangnya kesempatan, kesetaraan, dan perolehan hak dalam pekerjaan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News