Jumat, 19 April 2019 – 13:37 WIB

Milyuner Jack Ma Sebut Staf Harus Kerja 12 Jam Sehari 6 Hari Seminggu

Rabu, 17 April 2019 – 00:00 WIB
Milyuner Jack Ma Sebut Staf Harus Kerja 12 Jam Sehari 6 Hari Seminggu - JPNN.COM

Bekerja dari jam 9 pagi sampai 5 sore adalah rentang waktu yang lumrah bagi banyak pekerja. Namun tak demikian halnya jika anda bekerja untuk pendiri Alibaba, Jack Ma.

Poin utama:

• Pendiri Alibaba, Jack Ma, mengatakan kepada stafnya bahwa bekerja 12 jam sehari adalah "berkah"
• Hal itu terjadi setelah sesama milyuner e-commerce, Richard Liu, menyebut para pekerja "pemalas"
• Ma kemudian menarik kembali komentarnya setelah kritik dari media pemerintah China

Orang terkaya di China, dengan perkiraan kekayaan bersih lebih dari $ 50 miliar (atau setara Rp 500 triliun), ini telah menciptakan kegemparan di media sosial setelah menyatakan bahwa staf harus mematuhi jadwal kerja "996": dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari seminggu.

Kerja 72 jam seminggu - hampir dua kali lipat dari standar Australia yakni 38 jam seminggu - telah menjadi subjek kontroversi di China karena perusahaan teknologi menempatkan harapan yang semakin tinggi pada para pekerja.

Dalam pidatonya kepada staf Alibaba yang diunggah ke Weibo, Ma mengatakan bahwa bekerja 12 jam sehari untuk perusahaan adalah "berkah".

"Jika anda tak bekerja 996 di usia muda, kapan anda bisa [melakukannya]? Apakah anda pikir tak pernah harus bekerja 996 dalam hidup anda adalah suatu hal yang membanggakan?," katanya.

"Bagaimana anda bisa mencapai kesuksesan yang anda inginkan tanpa melebihi usaha dan waktu orang lain?."

Namun, miliarder teknologi itu kemudian muncul untuk menanggapi komentarnya setelah menghadapi kritik dari netizen - serta media pemerintah China.

"Jika Anda menemukan pekerjaan yang Anda sukai, masalah 996 itu tidak ada - jika Anda tidak bersemangat tentang hal itu, setiap menit di tempat kerja adalah siksaan," katanya dalam postingan panjang di Weibo.

"Tidak ada yang suka bekerja di perusahaan yang memaksa Anda melakukan 996. Tak hanya itu tidak manusiawi, itu tidak sehat dan bahkan lebih tidak berkelanjutan untuk jangka panjang - ditambah pekerja, kerabat dan hukum tidak menyetujuinya."

"Dalam jangka panjang, tak peduli seberapa tinggi gaji yang Anda bayarkan kepada karyawan Anda, mereka semua akan pergi."

Budaya kerja lembur

Komentar itu muncul ketika Richard Liu, pendiri raksasa e-commerce China JD.com, juga turut berpendapat dalam perdebatan yang sedang berlangsung tentang budaya kerja lembur yang melelahkan di industri teknologi China, menyesalkan bahwa periode pertumbuhan telah meningkatkan jumlah pemalas di perusahaannya.

Liu mengunggah di WeChat bahwa pada hari-hari awal perusahaannya, ia akan mengatur jam alarm untuk bangun setiap dua jam sehingga ia bisa menawarkan layanan 24 jam kepada pelanggannya - ukuran yang ia sebut penting untuk kesuksesan JD.com.

"JD dalam empat tahun terakhir, lima tahun belum melakukan eliminasi, sehingga jumlah staf telah berkembang dengan cepat, jumlah orang yang melakukan pesanan terus tumbuh, sementara mereka yang bekerja sudah loyo," tulisnya.

"Sebaliknya, jumlah pemalas telah tumbuh dengan cepat!"

"Jika ini terus berlanjut, JD tidak akan memiliki harapan! Dan perusahaan hanya akan terdepak dari pasar tanpa perasaan! Para pemalas bukanlah saudara-saudaraku!" tambahnya.

Komentar itu adalah kontribusi terbaru untuk diskusi yang berkembang tentang keseimbangan kehidupan kerja di industri teknologi karena sektor ini melambat setelah bertahun-tahun pertumbuhan yang sangat tinggi.

Dalam tajuk rencana yang diterbitkan pada hari Minggu, corong partai komunis China, harian People's Daily mengecam para pemimpin Alibaba dan JD.com atas pernyataan mereka, mengatakan bahwa melakukan "kerja lembur paksa" tidak setara dengan "bekerja keras".

"Dengan tekanan penurunan ekonomi, banyak perusahaan menghadapi tantangan untuk bertahan hidup ... tetapi cara untuk mengurangi kecemasan adalah tidak membiarkan karyawan bekerja lembur sebanyak mungkin," kata editorial itu.

Ikuti berita-berita lain di situs ABC Indonesia.

 
SHARES
Komentar