Mitos Sperma Bali di Mata Turis

Mitos Sperma Bali di Mata Turis
Mitos Sperma Bali di Mata Turis
Selain itu, agar bisa lebih memikat, kelompok luar Bali bercerita tentang kebudayaan Bali kepada para turis. Tentu saja itu merupakan cara mereka agar lebih dipercaya sebagai warga lokal Pulau Dewata. Namun, kata Aryana, itu sepotong-potong saja.   

 

Yang membedakan anak pantai lokal dengan anak pantai dari luar Bali juga bisa dilihat dari tujuan akhirnya. Pria gondrong tersebut mengatakan, mayoritas pemuda Bali mengincar kekayaan tamunya dalam jangka panjang. Caranya, merayu agar teman atau pacarnya itu menanamkan investasi di Bali. Misalnya, membeli tanah, vila, dan membuka toko.

 

"Tapi, saya belum pernah berhasil," ujarnya lalu tertawa. Dulu dia pernah membujuk seorang pacarnya dari Jerman agar membeli sebuah vila di kawasan Seminyak. "Jadi, kalau kamu ke sini nggak usah cari hotel. Saya bisa menguruskan semuanya," rayunya saat itu.

 

Memang, usaha tersebut tidak mudah dan tak semua bisa berhasil menerapkan jurus itu. Mengingat, berinvestasi di Bali membutuhkan dana yang mahal. "Tapi, juga banyak yang sukses lho," imbuhnya. Pernyataan itu dibenarkan Made Irawan atau yang akrab disapa Piping. Pria asal Denpasar pemilik majalah komunitas  selancar Magic Wave itu menyatakan, di kawasan Kuta dan sekitarnya banyak sekali pemuda lokal sukses lantaran berkolaborasi dengan teman-temannya yang awalnya turis asing. "Lebih dari 50 persen tempat usaha di sana milik orang lokal," imbuhnya. (kuh/c7/kum)

ADA  kecenderungan akhir-akhir ini para turis asing wanita lebih suka mendekati pemuda asli Bali. Menurut cerita Aryana (nama samaran), berdasar


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News