Minggu, 18 November 2018 – 01:03 WIB

Morotai Terus Dikebut Bersama Investor Tiongkok dan Taiwan

Rabu, 13 Juli 2016 – 04:26 WIB
Morotai Terus Dikebut Bersama Investor Tiongkok dan Taiwan - JPNN.COM

Pulau Morotai. Foto: dokumen JPNN

MOROTAI – Pesona #wonderfulmorotaiislands tak pernah berhenti bergerak membangun Morotai. Setelah dilaunching awal Juni 2016, salah satu destinasi wisata prioritas itu sudah menggandeng dua perusahaan raksasa dunia untuk membangun amenitas di Morotai. Hubei Wanda, untuk membangun international chain hotel di Morotai. Sementara Chingfu Taiwan, dijadikan mitra dalam membangun 1000 homestay.

Dua nama tadi bukan perusahaan sembarangan. Wanda Hubei termasuk big name di Tiongkok. Menpar Arief Yahya sudah berkunjung dan memberikan presentasi ke Wanda Hubei di Wanda Plaza Beijing. Itu adalah perusahaan berbasis properti terbesar di Tiongkok. Perusahaannya konsisten membangun mal, hotel, apartment, commercial building, kawasan pariwisata, entertainment dan juga punya perusahaan financial serta tourism investmen.

Chingfu juga perusahaan bonafide. Itu adalah satu dari puluhan perusahaan kelas dunia Taiwan. Perusahaan yang bergerak di
Ship Building dan memasok kapal-kapal besar untuk penangkapan ikan, pariwisata dan manufaktur itu, ikut diundang membentuk konsorsium bersama Jababeka di Morotai.

“Wanda Hubedan Chingfu akan survey Juli atau Agustus 2016,” terang anggota Pokja Morotai, Ari Suhendro yang didampingi Ketua Pokja Hiramsyah Sambudhy Thaib, Minggu (10/7). Dirut PT Jababeka Setyono Djuandi Darmono, ikut buka suara. Khusus untuk homestay, tahapannya sudah memasuki proses sertifikasi lahan seluas 10 Ha. Ini adalah bagian dari tahap 1A untuk homestay percontohan. “Kontraknya sudah ditandatangani Jababeka Morotai dan kontraktor,” terang Darmono.

Lantas bagaimana dengan dananya? Mekanisme kerjasamanya akan dibuat seperti apa? Soal ini, Darmono mengaku sudah merancang konsep yang sangat ringan. Pembebasan tanah, bisa dibuat secara sewa, kerja sama atau beli secara bertahap. “Dananya diambil dari modal konsortium, bank dan penjualan atau penyewaan tanah sesudah dibangun sarana dan prasarana sesuai master plan dan kebutuhan pasar,” bebernya.

Memang, ada istilah telur dan ayam, mana dulu yang dibangun? Izin penangkapan ikan masih moratorium sehingga belum feasible membangun galangan memproduksi kapal. Untuk pariwisata , jumlah wisatawan masih sedikit, belum regular. 

Jumlah kamar hotel dan homestay masih di bawah 200 dan bandara belum internasional sehingga airlines belum feasible untuk beroperasi. Manufaktur  dan pasokan listrik juga belum memadai, pelabuhan dan kapal-kapal  internasional juga belum ada sehingga belum feasible.

Meski begitu, Darmono mengaku tak khawatir. Dari pengakuannya, saat ini banyak peminat yang ingin investasi di bidang pariwisata, perikanan dan manufaktur. Bahkan masterplan pengembangan Morotai dalam kurun waktu 25 tahun ke depan pun sudah dibuat.  

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar