Jumat, 24 Mei 2019 – 18:15 WIB

Nasir Minta PTS di Papua Kembangkan Raja Ampat, Belajar ke Bali

Kamis, 09 Mei 2019 – 08:37 WIB
Nasir Minta PTS di Papua Kembangkan Raja Ampat, Belajar ke Bali - JPNN.COM

jpnn.com, DENPASAR - Menristekdikti Mohamad Nasir meminta Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Papua Barat dan Papua memenuhi kebutuhan sumber daya manusianya. Ada banyak potensi Papua yang akan menyejahterakan Orang Asli Papua (OAP), apabila perguruan tingginya menyediakan program studi yang mendukung potensi tersebut.

"Di Papua ada pusat wisata terkenal, yaitu Raja Ampat yang begitu indah, begitu bagus. Bagaimana sumber daya manusia penyedia wisatanya? Kalau orang wisata itu ada berbagai keinginan. Di laut sudah jelas bagus buat yang ingin diving, tapi malam harinya harus diadakan kegiatan kalau wisata," kata Menteri Nasir saat Rapat Kerja Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV (Papua dan Papua Barat) di Denpasar, Rabu (8/5).

Menteri Nasir mengungkapkan, untuk berinovasi dalam pariwisata di Raja Ampat, diperlukan program studi yang bisa melahirkan lulusan andal. PTS di Papua bisa belajar dan bekerja sama dengan perguruan tinggi di Bali yang sudah lama mengembangkan program studi terkait wisata.

"Program studi pariwisata menjadi sangat penting. Kalau program studi itu penting, berikutnya ikutannya adalah (program studi) kesenian harus kita dorong. Yang ketiga program studi kuliner. Mungkin nanti kalau bisa kita lakukan kerja sama di Bali ini," ungkap Nasir.

Dalam pengembangan potensi kuliner di Papua, PTS dan pemuda di Papua belum banyak yang mengembangkan dan mengemas makanan pokok khas Papua, yaitu sagu.

"Juga kalau kita datang di Manokwari atau di Sorong Selatan, di situ ada sagu yang banyak. Pertanyaannya adalah apakah sagu kita hanya kita olah begitu saja," ungkap Nasir.

Menteri Nasir mengakui dirinya saat ini rutin mengonsumsi sagu setiap hari setelah mengetahui kelebihan makanan pokok ini dibanding nasi. Namun, sagu perlu dikembangkan lagi oleh pemuda dan perguruan tinggi di Papua Barat dan Papua.

"Saya sekarang setiap hari konsumsi sagu juga. Ternyata sagu itu glutennya sangat rendah, tapi sagu yang sudah dibuat kotak-kotak yang saya masukkan air panas ke mangkuk langsung memuai. Kalau saya ke Maluku selalu beli itu. Bagaimana mengolah sagu menjadi modern, ini yang sangat penting. Tanpa pendidikan, tidak mungkin kita akan ubah ini," paparnya.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar