Kamis, 18 Juli 2019 – 12:27 WIB

Nestapa Keluarga Serka Bayu, Korban Tabrakan Maut KA di Pemalang

Senin, 04 Oktober 2010 – 08:08 WIB
Nestapa Keluarga Serka Bayu, Korban Tabrakan Maut KA di Pemalang - JPNN.COM

Siapa yang menyangka kepulangan Serka Yohanes Bian Bayu Sakti, 33;  bersama istri, Marieta Catur Yeni Septanti, 29;  dan anak tunggal mereka, Sebastian Pedeleo Urus Bawono, 4,  ke Ungaran akan menjadi kepulangan selamanya. Keluarga itu menjadi korban tabrakan maut KA Senja Utama dengan Argo Bromo Anggrek di Pemalang pada  Sabtu (2/10) lalu.
 
=============================

HUJAN air mata mewarnai pelepasan peti jenazah Serka Bayu beserta jenazah istri dan anaknya kemarin. Upacara pelepasan jenazah dari rumah duka di Desa Keji, Ungaran Barat,  Jawa Tengah, dipimpin Kakesdam IV Diponegoro Kolonel CKM drg Pangestu yang mewakili Kasdam Brigjen TNI M. Nizam. Selain dihadiri rekan Bayu di Kesdam IV Diponegoro, prosesi pemberangkatan jenazah keluarga Serka Bayu juga dipenuhi rekan kuliah Yeni dari Fakultas Psikologi Unika Soegijopranoto Semarang, dan masyarakat setempat

"Sesuai dengan kesepakatan keluarga, tiga jenazah dimakamkan di Cibinong, Bogor, karena selama ini almarhumah Yeni sudah berdomisili di sana," ucap Krisdwianto, 36, kakak kandung Yeni.

Kepada Radar Semarang (Grup JPNN), Krisdwianto menuturkan, selama ini Yeni dan Bayu memang hidup berjauhan.  Yeni di Cibinong, sedangkan Bayu bertugas di Kesdam IV Diponegoro, Semarang. Karena itu, dengan alasan ingin berkumpul bersama anak dan istri, Bayu mengajukan pindah tugas ke Jakarta untuk menyusul sang istri yang lebih dahulu tinggal dan bekerja di salah satu perusahaan farmasi di Cibinong.
 
Kepulangan Bayu beserta istri dan anaknya ke Ungaran Sabtu itu bermaksud pamit kepada keluarga sekaligus mengurus surat pindah.  Sebab, terhitung mulai 12 Oktober nanti, almarhum akan pindah tugas ke Jakarta. SK pindahnya sudah turun. Tetapi, maut telah menjemput di tengah jalan sebelum mereka berpamitan.
 
"Kami sekeluarga tidak menyangka bahwa almarhum beserta anak istrinya ternyata pamit untuk selamanya," tutur Krisdwianto dengan terbata-bata. "Terakhir, kami bertemu almarhum Bayu seminggu yang lalu. Dia bilang ingin membuat pasfoto untuk keperluan surat pindah," imbuhnya.
 
Di mata Krisdwianto, keluarga almarhum adalah pribadi-pribadi yang menyenangkan, baik, dan jujur dalam pekerjaan maupun pergaulan. Tragedi itu merupakan pembuktian bahwa almarhum bersama anak dan istrinya merupakan umat yang dicintai Tuhan. Karena itu, mereka "dipanggil" lebih awal dan bersamaan.
 
Bayu merupakan anak bungsu di antara enam bersaudara. Dia pula satu-satunya penerus sang ayah sebagai tentara. "Keluarga besar kami akan selalu merindukan  Sebastian. Dia anak yang pintar dan lucu. Kami benar-benar merasa kehilangan," ucap Krisdwianto.
 
Krisdwianto mengetahui terjadinya kecelakaan yang menimpa keluarga adiknya dari berita TV pada pukul 07.00. Mengetahui Bayu, Yeni, dan Tian "panggilan Sebastian"  sedang dalam perjalanan ke Semarang dengan menumpang KA Senja Utama, dia segera mencari informasi via internet. "Semula kami dapat info Serka Bayu dirawat di RS St Maria. Namun setelah kami cek, ternyata kami temukan di RS Ashari Pemalang, sudah meninggal dunia," paparnya.
 
Keluarga mengaku pasrah dan tidak akan menuntut PT KAI atas musibah itu. Namun, dia menyesalkan berulang-ulangnya musibah seperti itu dengan korban banyak. PT KAI diharapkan segera melakukan evaluasi untuk memperbaiki kinerja manajerial maupun karyawannya. "Saya pikir, banyaknya kecelakaan kereta api itu membuktikan amburadulnya kinerja PT KAI. Keterangan yang saya peroleh dari lokasi kejadian mengatakan, kecelakaan itu akibat petugas sinyalnya orang baru," kata Yohanes Eko Utama, kakak Yeni yang lain."

Duka mendalam juga menyelimuti keluarga Pratu Heru Pramono, anggota TNI Yonif 320 Badak Putih, Pandeglang, Banten. Pasalnya, Pratu Heru yang sedianya Sabtu (2/10) sore melamar calon istri, ikut menjadi korban tewas dalam kecelakaan KA Senja Utama dan Argo Bromo Anggrek itu. Padahal, segala persiapan sudah dilakukan, termasuk ubo rampe seserahan untuk lamaran.

Namun, kepulangan Pratu Heru ke Kudus bukan untuk melamar sang kekasih, melainkan dia ikut tewas. Kemarin (3/10) jenazah pria 26 tahun itu dimakamkan di Pemakaman Umum Sentul di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Pemakaman jenazah Heru dilakukan secara militer dan dipimpin Kasdim 0722 Kudus Mayor Inf Ngatijo. Ratusan pelayat ikut mengantar almarhum hingga rumah abadinya. Tampak pula calon istri almarhum, Dwi Endah Ayu Ermawati. Tapi, dia enggan diwawancarai. "Maaf, silakan wawancara dengan keluarga almarhum saja," ucapnya kepada Radar Kudus (Grup JPNN).

Sebenarnya, setelah lamaran Sabtu lalu, Heru dan Dwi Endah akan melangsungkan pernikahan di Pandeglang, Banten, November mendatang. Namun, rencana itu akhirnya batal karena Heru sudah "dipanggil" lebih dulu. Karena itu, bisa dipahami bila Dwi Endah begitu terpukul atas meninggalnya sang kekasih.

"Saya tak bisa berkata apa-apa. Saya sedang berduka," tandas Dwi Endah dengan mata sembap, seusai pemakaman calon suaminya. (sin/lil/rus/jpnn/c2/ari)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar