NU Care dan MTT Bangun Sarana Sanitasi untuk 10 Pesantren di Lebak

NU Care dan MTT Bangun Sarana Sanitasi untuk 10 Pesantren di Lebak
Ketua Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU, Achmad Sudrajat saat peresmian bangunan sanitasi dan MCK di salah satu titik penerima bantuan, di Pondok Pesantren Al-Baqiyatussolihat, Kampung Kenceh, Desa Cilayang, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (22/12). Foto: Humas PBNU

jpnn.com, LEBAK - NU Care-LAZISNU bersama Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dalam program Jamban Bagus (Jambu) menyerahkan bantuan berupa pembangunan sarana sanitasi air bersih dan MCK untuk 10 Pesantren di Kabupaten Lebak.

Ketua Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU, Achmad Sudrajat, menuturkan program Jambu ini jadi PR bersama, karena masih banyak masyarakat yang belum memiliki jamban.

“Lebih dari 10 juta jiwa tidak punya (akses) jamban menurut data dari Pemerintah. Program Jambu ini untuk kesehatan, untuk sanitasi masyarakat,” ungkap Sudrajat, saat peresmian bangunan sanitasi dan MCK di salah satu titik penerima bantuan, di Pondok Pesantren Al-Baqiyatussolihat, Kampung Kenceh, Desa Cilayang, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (22/12).

Sudrajat menjelaskan, alasan pesantren sebagai penerima bantuan karena pesantren telah menjadi sentral kehidupan bermasyarakat.

“Pesantren adalah community leader, sentral masyarakat. Dan, ada sekitar 1500 pesantren di 28 Kecamatan di Kabupaten Lebak. Mari kita bantu. Kita berharap dari semua unsur BUMN, kita bisa bareng-bareng bekerja, dan memberi manfaat. Sukses selalu untuk MTT. Saya doakan MTT berkah,” imbuhnya.

Manajer Program Kesehatan dan Ekonomi MTT, Sugeng Prayitno, yang hadir pada peresmian tersebut berharap program-program yang sudah dikerjasamakan dengan NU Care-LAZISNU dapat bermanfaat dengan sebaiknya-baiknya untuk masyarakat.

“Mudah-mudahan bermanfaat untuk Saudara-saudara di Lebak, dan kerja sama ini bisa memperluas kebaikan, bukan hanya untuk 10 pesantren, mudah-mudahan bisa lebih,” ujar Sugeng.

Sementara itu, Ketua PCNU Lebak, Syaepudin Asy Syadzily, mengungkapkan 10 pesantren yang menerima bantuan memang belum memiliki MCK yang layak.

Sudrajat menjelaskan, alasan pesantren sebagai penerima bantuan karena pesantren telah menjadi sentral kehidupan bermasyarakat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News