JPNN.com

Pak Raden Belum Sempat Melihat Film Si Unyil Tiga Dimensi

Minggu, 01 November 2015 – 09:14 WIB Pak Raden Belum Sempat Melihat Film Si Unyil Tiga Dimensi - JPNN.com

DI rumah tempat 'Pak Raden' disemayamkan, ada beban berat yang seolah menggelayuti pundak Shelvy Arifin. Beban yang membuat direktur utama PPFN (Perum Produksi Film Negara) itu merasa seperti ada utang yang belum dibayar.
---------------
DODY BAYU PRASETYO, Jakarta
---------------
”Animasi tiga dimensi sedang kami godok. Saya menyesal belum kasih lihat ke bapak (Pak Raden, Red),” ujar Shelvy saat melayat ke rumah duka di Jalan Petamburan III pada Jumat malam (30/10).

Animasi yang dimaksud adalah film Si Unyil berformat tiga dimensi. Sampai sebelum menutup mata pada Jumat pukul 22.20 lalu itu, Drs Suyadi atau yang lebih dikenal sebagai Pak Raden masih sangat berharap bisa melihat hasil akhirnya.

Maklum, Si Unyil adalah bagian terbesar dari perjalanan hidupnya yang berujung pada usia 82 tahun karena infeksi pada paru-paru sebelah kanan itu. Pria yang dikebumikan kemarin (31/10) di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, itulah yang pertama memperkenalkannya pada awal 1980-an.

”Bapak itu terlahir sebagai tukang gambar. Dari sanalah terlahir tokoh Si Unyil,” kata Prasodjo Chusnanto, manajer pria yang melajang sampai akhir hidupnya tersebut.

Alumnus Seni Rupa ITB itu tak hanya melahirkan konsep serial boneka wayang yang pertama tayang di TVRI pada 1 April 1981 tersebut. Dengan suaranya yang khas, dia juga sangat berhasil meniupkan roh ke dalam karakter Pak Raden.

Saking berhasilnya, karakter Pak Raden itu terbawa dalam penampilan keseharian pria kelahiran Puger, Jember, Jawa Timur, tersebut. Tiap tampil dalam suatu acara, dia tak lupa mengenakan pakaian khas Jawa berupa beskap dan belangkon.

Perjalanan Si Unyil dalam industri hiburan tanah air terbilang panjang. Di TVRI, petualangan para bocah dan warga Desa Sukamaju itu baru berakhir pada 1993.

Hampir sepuluh tahun vakum dari layar televisi, Si Unyil dan kawan-kawannya, di antaranya Ucrit, Usro, Pak Ogah, dan tentunya Pak Raden, kembali hadir di televisi pada 2002 sampai 2003 di RCTI. Kemudian dilanjutkan TPI (kini jadi MNCTV) pada pertengahan 2003 hingga akhir tahun yang sama.

Di dunia yang semakin digital, pamor serial boneka kayu seperti Si Unyil pun kian redup. Karena itu, Si Unyil pun harus mengubah konsep untuk mengikuti perkembangan selera pemirsa.

Perubahan itu bisa dilihat mulai 2007 melalui tayangan bertajuk Laptop Si Unyil dan Buku Harian Si Unyil di televisi. Melalui dua program tersebut, Unyil dan teman-temannya tidak lagi menghibur dari panggung kecil serta miniatur rumah dan pohon, tapi mengajak pemirsa berjalan keluar masuk pabrik serta berjalan-jalan ke alam yang lebih luas.

Namun sayang, kesuksesan Si Unyil di industri hiburan itu bertolak belakang dengan kehidupan orang yang menciptakannya dahulu. Di pengujung hidupnya, kehidupan Pak Raden justru sangat bersahaja.

Dia menumpang di rumah milik kakaknya di Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat. Pada 2013 Pak Raden bahkan pernah mencoba menjual salah satu lukisan karyanya yang berjudul Perang Kembang kepada Joko Widodo (Jokowi) –saat itu masih menjabat gubernur DKI Jakarta– untuk biaya berobat kakinya. Namun, usahanya tersebut tidak berhasil lantaran saat itu Pak Raden gagal berjumpa dengan Jokowi.

Sepanjang hidupnya, Pak Raden tak pernah merasakan punya rumah sendiri. Karena itu, dia tak kuasa menahan tangis saat dihadiahi rumah secara cuma-cuma kala menghadiri Silet Awards 2015 di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin lalu (26/10). Atau empat hari sebelum dirinya mengembuskan napas terakhir.

”Selamat malam. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Begitu banyak yang ingin saya katakan, tapi semuanya saya rangkum dalam satu kata, terima kasih,” ucapnya di atas podium sembari terisak saat itu.

Prasodjo mengenang, meski berbagai kesulitan menghadang, Pak Raden hampir tak pernah mengeluh. Dia memilih terus berkarya. Di hari-hari terakhirnya, selain menanti animasi Si Unyil berformat tiga dimensi, dia tengah mengerjakan lukisan sketsa dari sejumlah dongeng karya penulis legendaris Denmark Hans Christian (H.C.) Andersen.

Cerita-cerita karya Andersen yang mendunia antara lain adalah The Little Mermaid, The Snow Queen, dan Thumbelina. ”Bapak pernah bilang ingin menyelesaikan 210 sketsa hitam putih dari cerita-cerita karya H.C. Andersen. Juga ingin ikut membantu film Si Unyil tiga dimensi,” ujar Prasodjo.

Sayang, semua itu belum sempat terwujud sampai mau menjemput. Namun, semangatnya yang tetap menyala hingga usia demikian lanjut akan terus menginspirasi siapa saja.

”Semoga ada yang meneruskan kiprah Pak Raden, tokoh budaya yang berkarya melalui pendidikan. Semoga pula ke depan pemerintah bisa lebih memberikan perhatian dan penghargaan kepada seniman seperti almarhum,” tutur Seto Mulyadi, salah seorang tokoh pendidikan Indonesia. (*/c9/ttg)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...