JPNN.com

Pasien Demam Berdarah Membeludak di RSUD

Jumat, 15 Februari 2019 – 23:21 WIB Pasien Demam Berdarah Membeludak di RSUD - JPNN.com

Kampanye pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga gencar. Namun, wabah demam berdarah (DB) ternyata tidak berhenti, tetapi justru meluas. Pasien pun membeludak. Rumah sakit kehabisan ruangan.

Januari seakan menjadi puncak musim DB. Hingga kemarin (14/2), ruang perawatan RSUD Ibnu Sina, Gresik penuh. Pasien sampai harus dirawat di lorong.

Berdasar data, masih ada 44 pasien DB yang dirawat di RS milik Pemkab Gresik tersebut. Padahal, ruang anggrek hanya berkapasitas 25 pasien.

Direktur RSUD Ibnu Sina dr Endang Puspitowati SpTHT-KL mengakui, seluruh ruang perawatan penuh. Dia sudah mendapat laporan.

Masih banyak pasien DB yang antre di IGD. ''Memang ini sedang penuh. Terpaksa ada yang dirawat di lorong,'' ujarnya.

Menurut Endang, jauh-jauh hari RSUD sebenarnya mengantisipasinya. Mulai menambah extra bedhingga membuka ruang baru.

''Ya memang sedang musimnya. Kamar semua penuh,'' jelasnya.

Bagaimana solusinya? Endang telah memerintah karyawannya untuk segera memulangkan pasien yang membaik. Sebab, antrean di IGD sudah panjang. Penanganan selanjutnya dilakukan dengan rawat jalan.

2 dari 3 halaman

Meski begitu, lanjut dokter yang juga Plt kepala Dinas Kesehatan Gresik tersebut, harus dipastikan pengobatan terhadap pasien tetap maksimal.

Yang penting bagi pasien demam berdarah, penambahan cairannya bisa teratasi. ''Untuk kamarnya, akan kami carikan solusi,'' tuturnya.

Perkembangan mengkhawatirkan itu mengundang perhatian Komisi IV DPRD Gresik. Komisi bidang kesejahteraan rakyat tersebut melakukan inspeksi mendadak (sidak) pasien DB ke RSUD Ibnu Sina kemarin.

Ketua Komisi IV Khoirul Huda ingin memastikan masih banyak pasien DB atau tidak. Ternyata masih banyak.

Di ruang anggrek, ada beberapa pasien yang diopname di lorong. Dia mengusulkan RSUD Ibnu Sina membangun tambahan gedung baru.

Pada musim-musim tertentu, pasien kerap membeludak. Menanggapi usul tersebut, Endang menyatakan sedang merehabilitasi beberapa gedung.

Bagaimana jalan keluar soal kendala fogging? Sebelumnya diberitakan, dinas kesehatan (dinkes) kehabisan anggaran. Merekrut tenaga bantuan juga tidak mudah. Meminta pemerintah desa membiayai fogging pun sulit.

Ditanya soal itu, Huda mengaku bahwa belum ada solusi. Saat ini komisi IV minta dinkes dan puskesmas lebih gencar mengampanyekan gerakan PSN dan 3M Plus. Termasuk satu rumah satu jumantik. (son/c14/roz/jpnn)

3 dari 3 halaman

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...