Jumat, 19 April 2019 – 19:27 WIB

Pekan Terakhir Kampanye, Sikap Pemilih Diduga Tidak Akan Banyak Berubah

Rabu, 10 April 2019 – 10:00 WIB
Pekan Terakhir Kampanye, Sikap Pemilih Diduga Tidak Akan Banyak Berubah - JPNN.COM

Seminggu menjelang pemilihan presiden dan pemilihan umum di Indonesia pada 17 April, pilihan para pemilih diperkirakan sudah tidak akan berubah signifikan lagi.

Pekan terakhir kampanye pemilu 2019:

  • Masa kampanye terbuka berakhir pada 13 April 2019 diikuti masa tenang selama 3 hari 14 - 16 April 2019
  • Survey terakhir memprediksi massa mengambang akan menentukan kemenangan dalam pilpres 2019 karena angka selisih yang tipis
  • Fanatisme politik membuat sulit mempengaruhi pendukung dari dua kubu dan golput di akhir massa kampanye.

Hari terakhir untuk melakukan kampanye adalah hari Sabtu (13/4/2019) karena sesudah itu akan memasuki masa tenang selama tiga hari sebelum hari pencoblosan.

Dengan masa kampanye tinggal beberapa hari lagi, tampak para kontestan dalam pemilu ini masih berusaha untuk mencoba membujuk mereka yang belum menentukan pilihan guna memilih calon mereka.

Sejumlah survei juga mengatakan bahwa kemungkinan dalam pemilihan presiden perolehann suara antara kubu 01 Jokowi - Amin dan kubu 02 Prabowo - Sandiaga hanya berselisih tipis.

Voxpol Center Research and Consulting hari Selasa (9/4/2019) merilis hasil survei elektabilitas pada H-8 pelaksanaan Pilpres 2019.

Survei ini menempatkan pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin unggul tipis 5,5% dari pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Survei yang dilakukan pada 18 Maret-1 April 2019 terhadap 1.600 responden dari 34 provinsi di Indonesia menyimpulkan pasangan Jokowi-Ma'ruf mendapat suara 48,8%, sedangkan Prabowo-Sandi 43,3%.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan meski kubu 01 masih unggul namun survei lembaganya menunjukan tren penurunan pemilih pada pasangan petahana tersebut.

"Pak Jokowi itu cenderung stagnan, kali ini kalau kita lihat trennya itu turun, tapi kalau kita bicara di atas kertas itu Pak Jokowi masih unggul. Kalau bicara tren memang trennya Pak Prabowo lebih baik," ucapnya.

Pangi menambahkan peluang kemenangan bagi kedua pasangan masih terbuka, mengingat jumlah warga yang belum menentukan pilihan masih cukup banyak yakni sebesar 7,9%.

Pendekatan yang dilakukan kedua pasangan untuk merebut hati masyarakat akan sangat menentukan.

"Undecided voters kalau dihitung itu sekitar belasan juta. Masih bisa keduanya merebut itu. Tapi kemudian kita lihat peta politik isu ke depan, blunder atau tidak, kemudian bagaimana untuk menyenangkan pihak mayoritas dan minoritas," papar Pangi saat menyampaikan hasil survei di Jakarta.

Namun pengamat politik dari Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menilai hari-hari terakhir masa kampanye ini sudah tidak akan berpengaruh banyak bagi pemilih.

Ia beralasan sudah terjadi fanatisme politik di kalangan pemilih dari dua kubu yang tidak mungkin beralih suara.

"Karena fanatisme politik ini mereka yang pilih Jokowi tidak bisa pindah, dan yang pilih Prabowo juga tidak akan mau pindah," katanya.

"Begitu juga yang menyatakan golput sudah mengatakan tidak akan menggunakan hak pilihnya."

"Jadi menurut saya tingkat partisipasi 90%, golputnya bisa 10%. Jadi saya tidak yakin akan bisa mempengaruhi lagi. Kalau pun ada paling hanya sekitar 3%," kata Ray Rangkuti.

Ray menyatakan alih-alih menambah dukungan, langkah dari kedua kubu justru berpotensi mengurangi suara jika salah satu melakukan kesalahan atau blunder fatal.

Perang urat syaraf pengerahan massa

Meski demikian kedua kubu tampaknya tidak akan mengendurkan perlawanan di hari-hari terakhir masa kampanye ini.

Pasangan calon dari kedua kubu semakin sibuk berkampanye ke daerah-daerah yang dinilai sangat menentukan. Narasi politik kedua paslon juga semakin meninggi.

Dalam orasinya di hadapan massa buruh yang mengikuti Apel Akbar Kesetiaan Relawan Buruh di Kabupaten Bandung, Selasa (9/4/2019), Jokowi menyindir rivalnya Prabowo Subianto yang sempat kedapatan mengenakan sarung tangan saat bersalaman dengan warga.

Jokowi mengatakan dia menikmati berjabatan tangan secara langsung dengan warga.

"Karena kalau ke desa di Jawa Barat saya salaman, saya rasakan, tidak pakai sarung tangan."

"Setiap salaman saya rasakan. Oh ini dukung. Salaman lagi, dukung. Saya ini 'kan sudah salaman berjuta-juta orang, jadi mengerti mana yang mendukung," katanya.

"Kalau nyalaminnya setengah-setengah, oh ini tidak mendukung. Oh ini masih ragu. Tapi dari sini ke sana tadi semuanya dukung. Saya yakin," tutur Jokowi.

Sementara Prabowo Subianto, dalam beberapa kampanye terkahir banyak melontarkan kata-kata yang tajam.

Seperti pada kampanye di Palembang hari Selasa, dia menyebut elit politik di Jakarta yang tidak pro rakyat sebagai bajingan.

"Banyak antek-antek asing itu di Jakarta, bajingan itu. Eh, maaf, maaf, nggak boleh bicara kasar... Ini karena Wong Kito Galo ini."

"Tapi kalian mau dengar yang kasar, apa yang benar? Kalau kalian mau dengar yang benar, memang bajingan mereka," kata Prabowo.

Kesengitan juga berlangsung di kalangan tim sukses dari kubu masing-masing yang semakin lantang menyuarakan kelebihan jagoan dan misi kubu mereka.

Tidak terkecuali berdebat soal jumlah massa yang menghadiri kampanye terbuka.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera misalnya menantang kubu lawannya untuk menandingi jumlah massa yang menghadiri acara kampanye akbar kubu 02 akhir pekan lalu di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Kubu 01, menurut rencana memang akan menutup kampanye nasional mereka dengan menggelar Konser Putih Bersatu yang akan diselenggarakan juga di GBK pada Minggu, 13 April nanti.

Tantangan Fahri Hamzah ini bermula dari ramainya tudingan kampanye terbuka kubu 02 di GBK dinilai tidak inklusif.

"Orang zikir dibilang eksklusif... Ada-ada aja... kita adu massa aja besok," tulis Fahri Hamzah di akun Twitter @Fahrihamzah yang dikutip Selasa (9/4).

Tantangan ini dijawab Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Erick Thohir yang mengatakan Konser Putih Bersatu akan menarik minat banyak orang meski tidak mau menyebut angka.

"Ini akan sangat besar. Saya tidak mau bicara angka, daripada bilang 2.000, yang datang 200. Tapi ini akan besar," kata Erick dalam konferensi pers di Palembang.

Aksi gertak kemampuan dalam mengerahkan massa ini menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat tetap signifikan meski tidak selalu menjamin besarnya dukungan.

"Politik itu memang diidentikkan dengan show of force atau aksi unjuk kekuatan. Kalau banyak yang datang berarti banyak didukung. Meskipun itu bisa jadi hanya klaim sepihak."

"Karena belum ada indikator yang menjamin massa yang hadir benar-benar akan memberikan suara bagi paslon tersebut, tapi itu tetap signifikan karena harapannya orang yang melihat jumlah massa yang besar bisa terpengaruh," kata Cecep Hidayat.

Sementara itu menyikapi kian dekatnya penyelenggaraan pemilu, Cecep Hidayat menilai pemerintah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan parpol perlu memperkuat sosialisasi mengenai pemilu legislatif yang terkesan tertutup oleh hiruk-pikuk pemilu presiden.

"Pemilu 2019 bukan hanya pilpres tapi juga pileg. Kita tampaknya melakukan simplifikasi dimana pemilih hanya fokus pada pilpres saja, sementara pemilu legislatif seperti tertutupi."

"Masyarakat harus diingatkan kembali bahwa pileg tidak boleh dilupakan, memilih wakil rakyat dengan benar juga penting karena mareka yang akan bekerja di parlemen," tambahnya.

Komisi Pemilihan Umum hari Senin mengumumkan jumlah pemilih pada pemilu 2019 bertambah sekitar 37.734 pemilih berdasarkan hasil rekapitulasi tahap ketiga.

Dengan penambahan ini, total pemilih yang akan diperebutkan suaranya pada 17 April mendatang menjadi 192.866.254 pemilih.

Dari jumlah itu total pemilih di dalam negeri sebanyak 190.779.969 orang sementara pemilih di luar negeri sebanyak 2.086.285 pemilih.

Ikuti berita-berita ABC Indonesia lainnya di sini

 
SHARES
Komentar