Pemerintah Pertimbangkan HPP Kedelai

Pemerintah Pertimbangkan HPP Kedelai
Pemerintah Pertimbangkan HPP Kedelai
Keengganan petani untuk menanam kedelai diantaranya, pertama, kedelai saat ini masih menjadi komoditas yang sulit ditanam di tanah air karena merupakan jenis komoditas sub tropis. Kedua, kedelai tidak tahan dengan anomali cuaca. Sehingga, produktivitas lahan kedelai saat ini kurang dari 2,5 ton per hektare, bahkan ada yang hanya 800 kilogram per hektare.

"Pak Menteri (Gita Wirjawan) telah menerima masukan dari petani. Dan masukan itu akan kami pertimbangkan dengan tindakan nyata seperti sidak langsung ke lahan kedelai dalam waktu dekat ini," ungkap Gunaryo kepada Jawa Pos di Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kemarin (1/8).

Karena itu, Gunaryo memaparkan, dalam waktu dekat pihaknya akan menilai secara langsung produktivitas lahan kedelai yang terhitung tinggi di tanah air, misalnya di Jember Jawa Timur. Dikatakan Gunaryo, petani mengklaim produktifitas di lahan kedelai Jember mencapai 3 ton per hektare. Bahkan, ia memaparkan, lahan yang ada di Lampung Sumatera, memiliki produktivitas kedelai mencapai 4,5 ton per hektare. Namun, ungkap Gunaryo, jumlah tersebut didapatkan dalam rangka percobaan. Sementara jika dioperasionalkan secara normal, produktiitas lahan biasanya hanya mencapai 25-50 persen dari hasil percobaan. "Karena itu, langkah sidak langsung untuk meyakinkan apakah HPP memang diperlukan atau tidak. Sejauh memang produktif, kami siap mendukung," jelasnya.

Selain mengumpulkan petani, Kemendag juga menemui para peneliti dalam waktu yang terpisah. Dalam pertemuan dengan peneliti, Kemendag mendapatkan masukan bahwa kualitas kedelai di dalam negeri memang lebih baik dibandingkan kedelai hasil importasi. Dalam hal ini, kualitas kedelai lokal jauh lebih baik untuk produksi tahu.

JAKARTA - Proses persiapan tata niaga kedelai terus bergulir. Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun telah mengadakan rapat pertama dengan para pihak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News