Pengamat: Pidato SBY Sebagai Pengingat Kedua Capres

Pengamat: Pidato SBY Sebagai Pengingat Kedua Capres
Pengamat Politik Manilka Research, Herzaky Mahendra Putra. Foto: Dokpri for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pidato yang disampaikan presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin, 17 September 2018, menyambut ulang tahun Partai Demokrat ke-17 merupakan pengingat buat kedua capres yang bakal berlaga di Pilpres 2019 mendatang. SBY mengingatkan kedua capres untuk mengutamakan rakyat dan membangun politik yang bermartabat.

Menurut Direktur Manilka Research and Consultant, Herzaky M. Putra, pesan pertama dari Pidato SBY adalah kedua capres jika terpilih sebagai presiden, mesti siap mengambil keputusan tidak populer selama memang keputusan itu terbaik untuk rakyat.

“SBY telah memberikan contoh, ketika menghadapi tekanan krisis global di 2008, memilih mengambil langkah menaikkan harga BBM demi mengurangi tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia,” kata Herzaky di Jakarta, Rabu (19/9).

Menurut Herzaky, langkah yang tidak populer secara politik itu memang bisa berakibat menurunnya elektabilitas SBY, apalagi jelang tahun pemilu. Tapi yang terpenting adalah ekonomi Indonesia akhirnya selamat dari ancaman krisis. Bagaimanapun, seorang presiden mesti mengutamakan rakyat, meskipun jabatan mungkin menjadi taruhannya.

Kedua, Jokowi dalam usahanya terpilih kembali atau Prabowo dalam usahanya untuk terpilih sebagai presiden, harus menggunakan cara-cara berpolitik yang bermartabat. Jokowi dan Prabowo sebaiknya tidak memilih cara yang bisa memecah belah masyarakat demi meraih kekuasaan, apalagi menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya. Jokowi dan

“Prabowo sebaiknya memberikan sumbangan dalam menguatkan fondasi demokrasi Indonesia di pilpres ini, bukan malah meruntuhkannya,” ujar Herzaky.

Pemerintahan SBY telah memberikan contoh berhasil menjaga agar Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, berlangsung secara damai, adil dan demokratis. Negara kembali akan diuji apakah Pemilu 2019 ini dapat berlangsung secara damai, adil dan demokratis. Peaceful, free and fair election.

Ketiga, Jokowi dan Prabowo, siapapun yang terpilih di Pilpres 2019 harus mengapresiasi para presiden pendahulunya. Bagaimanapun, para presiden sebelum ini telah bekerja keras dan ikut meletakkan landasan bagi presiden selanjutnya untuk membangun Indonesia. Bukannya berusaha meniadakan jasa maupun mengklaim kerja keras para presiden terdahulu.

Pemerintahan SBY telah memberikan contoh berhasil menjaga agar Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, berlangsung secara damai, adil dan demokratis.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News