Pengamat Transportasi Desak TransJakarta Lakukan Evaluasi

Pengamat Transportasi Desak TransJakarta Lakukan Evaluasi
Dua bus TransJakarta mengalami kecelakaan di Cawang, Jakarta Timur, Senin (25/10) Foto: Kenny Kurnia Putra/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat transportasi Deddy Herlambang mendesak manajemen TransJakarta mengevaluasi standar keselamatan yang mereka terapkan menyusul kecelakaan yang terjadi baru-baru ini.

Dia menyebut agar pihak manajemen melakukan audit keselamatan baik tangible dan intangible.

"Manajemen keselamatan di TranJakarta harus dilakukan audit parsial antara TransJakarta selaku operator dan mitra operator, seperti Damri, Lorena, Bianglala, Steadysafe, dan lain-lain," kata Deddy kepada JPNN.com, Jumat (3/12).

Dia menyinggung soal sopir TransJakarta yang merupakan pegawai kontrak di mitra transJakarta hanya mengisi target waktu.

Seharusnya, lanjut Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) itu, sopir harus diberikan cuti dan tetap digaji.

"Berdasarkan regulasi memang kerja sopir bus dibatasi delapan jam, tetapi weekend tetap kerja, kalau pegawai non-transport weekend libur dan masih ada cuti 12 hari selama 1 tahun," jelas dia.

Deddy berharap agar TransJakarta segera melakukan evaluasi dengan mitra dan sopir TransJakarta harus diangkat menjadi pegawai organik (bukan kontrak) sehingga menjanjikan jenjang karier.

Dalam kurun waktu 40 hari setidaknya ada lima kecelakaan, yakni di Cawang, Jakarta Timur, kecelakaan tunggal di Senen, Gandaria dan pada Kamis (2/12) di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC).

Direktur Eksekutif Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang mendesak adanya evaluasi terhadap pihak manajemen TransJakarta, menyusul kecelakaan yang sering terjadi baru-baru ini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News