Senin, 22 Oktober 2018 – 08:09 WIB

Perempuan Lintas Agama Indonesia Belajar Kepemimpinan di Australia

Kamis, 04 Oktober 2018 – 00:00 WIB
Perempuan Lintas Agama Indonesia Belajar Kepemimpinan di Australia - JPNN.COM

Meski kesetaraan gender masih menjadi isu yang disoroti tajam di Australia, namun kiprah dan kegiatan yang dilakukan sejumlah tokoh dan organisasi perempuan di Australia berhasil menginspirasi puluhan perempuan Indonesia peserta program kursus kepemimpinan beberapa waktu lalu di Melbourne, Victoria.

Sebanyak 27 tokoh wanita lintas agama dari 6 propinsi di Indonesia baru saja kembali dari mengikuti program kursus singkat Leadership for Senior Multi-Faith Women Leaders 2018 yang diselenggarakan oleh Australian Awards Indonesia dari 10 – 21 September 2018 lalu.

Program yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini dipusatkan di Deakin University, Melbourne, Victoria. Para peserta diajak untuk menggali ilmu dan wawasan mengenai pengelolaan organisasi dan kepemimpinan dari belasan pembicara dan panelis dari sejumlah organisasi di Australia.

Selain juga melakukan kunjungan ke sejumlah organisasi perempuan di Australia antara lain Women's Information Referral Service (WIRE) , Multicultural Center for Women’s Health (MCWH), dan Australian Muslim Women's Centre for Human Rights (AMWCHR).

Salah satu peserta, Mathilda Wowor dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) mengaku sangat senang dan bangga bisa terpilih dalam program ini.

Ia mengapresiasi desain kursus yang diklaimnya sangat membuka wawasan.

"Dari kegiatan perkuliahan di Deakin University Melbourne maupun kunjungan ke sejumlah institusi dan bertemu tokoh-tokoh perempuan di Australia, saya mendapat pemahaman yang lebih luas, soal bagaimana mereka menggunakan spirit keagamaan dalam membangun kebersamaan khususnya dalam menolong sesama perempuan.' ungkapnya.

Perempuan yang juga dosen di Universitas Indonesia ini mengaku sangat terkesan dengan kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang mereka kunjungi.

Selain itu menurutnya program ini juga menjadi wadah bagi peserta untuk mengenal organisasi perempuan keagamaan di Indonesia.

"Meskipun sama-sama dari Indonesia, kita jarang sekali bertemu dan biasanya hanya dalam acara-acara formal saja.

"Tapi lewat program ini kami memiliki kesempatan untuk saling mengenal dan belajar dari organisasi masing-masing. Saya belajar banyak dari sahabat-sahabat saya dari Aisyiyah, Muslimat NU, wanita Konghucu dan lain-lain,"

Terbangunnya jaringan dan kolaborasi antar organisasi perempuan lintas agama dan kepercayaan yang kuat memang menjadi misi dari program kursus singkat yang digawangi oleh Dr Rebecca Barlow, sebagai direktur program dan perancang program, Prof. Shahram Akbarzadeh sebagai Project Manager dan penasihat kursus serta Annemarie Ferguson sebagai konsultan dan Project Official.

Di akhir program seluruh peserta diharapkan dapat menciptakan proyek bersama untuk kemajuan dan kesetaraan perempuan dalam bingkai keberagaman.

Modul keberagaman bagi siswa PAUD

Selain proyek bersama seluruh peserta dalam kegiatan ini juga diwajibkan membuat proyek study dalam rangka menerapkan ilmu dan wawasan baru mereka mengenai pengelolaan organisasi dan kepemimpinan berangkat dari kondisi di masing-masing organisasi.

Bagi Mathilda Wowor, keprihatinan terhadap kondisi meningkatnya intoleransi di masyarakat Indonesia, mendoronganya untuk membuat proyek berupa modul pengajaran toleransi untuk murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Di organisasi WKRI, kebetulan saya membawahi bidang Pendidikan, Saya lihat selama ini belum ada modul khusus yang secara standar memberikan pemahaman pada anak secara dini mengenai keberagaman. Padahal ini sangat penting mengingat kondisi negara kita saat ini, bagaimana kita lebih cenderung melihat perbedaan daripada harmonisasi dari persamaan diantara kita."

"Dan menurut saya sikap seperti itu harus dimulai dari anak-anak, dimana 5 tahun pertama dalam hidup anak merupakan usia emas atau Golden Age yang jika mereka dibimbing dengan baik itu akan sangat mempengaruhi karakter mereka di masa depan."

Mathilda mengatakan sebagai langkah awal modul yang akan disusunnya nanti akan diterapkan di sekolah-sekolah yang selama ini bernaung dibawah organisasinya mulai dari tingkan TK, SD hingga SMP. 

Dan dia berharap nantinya akan dapat dikembangkan agar bisa diberikan di seluruh sekolah umum dan organisasi peserta program kursus singkat ini juga.

Tantangan kaderisasi dan peluang beasiswa

Sementara itu, peserta lainnya, Amalia Abdullah dari Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), lebih menyoroti pentingnya pengkaderan di internal organisasinya yang sudah berdiri lebih dari 7 dekade dan memiliki perwakilan di 34 wilayah.

"Di Muslimat NU itu budaya santrinya sangat kuat. Jadi kader kami biasanya sikapnya sangat Tawadhu dan lebih mengutamakan yang lebih tua. Sehingga pemberian peran dan peluang sering tidak berdasarkan kapasitas. Mungkin ada kader yang lebih punya kapasitas tapi malu  atau sungkan dengan seniornya." tutur perempuan yang menjabat sebagai ketua Hubungan Luar Negeri di organisasi perempuan NU itu.

Amalia yang juga lulusan Edith Cowan University, Perth, Australia Barat (WA) ini memaparkan rencananya membuat program Pendidikan yang dapat memudahkan kader Muslimat NU dari berbagai wilayah di Indonesia mengakses kesempatan Pendidikan dan beasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan mereka.

"Saya ingin, kader yang memang punya kapasitas meski di tingkat bawah itu bisa mengakses peluang beasiswa dan pelatihan. Jadi tidak hanya bagi pimpinan di pusat saja. Karena beasiswa Pendidikan dan pelatihan itu sangat perlu untuk membuka wawasan dan menjaring bibit-bibit pemimpin masa depan di organisasi saya. Itu yang belum dilakukan selama ini," tambahnya.

Kesetaraan relasi ditengah budaya patriarki

Sedangkan bagi Tristina Handjaja, peserta yang mewakili organisasi Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia, isu kampanye kesetaraan relasi pria dan wanita masih menjadi tantangan besar di kalangan perempuan Buddha khususnya dari kalangan warga keturunan Tionghoa di perkotaan.

"Di lingkungan saya yang beragama Buddha di kota-kota itu kebanyakan warga keturunan tionghoa, itu sangat kental budaya patriarkinya. Laki-laki sangat dinomorsatukan dan perempuan harus melayani dan tidak boleh mengambil keputusan. Jadi ada banyak kekerasan terselubung." tuturnya.

"Bagi warga Tionghoa, itu sangat tabu kalau laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga. Meskipun itu dilakukan pria secara suka rela tapi keluarganya pasti akan menilai itu membawa sial dan tidak hoki. isterinya bisa di maki-maki bahkan diceraikan hanya karena kedapatan keluarga suaminya mencuci piring misalnya."

Untuk menyikapi kondisi ini, Tristina Handjaja telah merancang program berupa festival tari dan angklung bagi perempuan di organisasinya.

"Dengan ikut kegiatan ini diharapkan mereka dapat keluar dari kungkungan budaya patriarki, bahwa perempuan memiliki kegiatan di luar rumah itu adalah suatu kewajaran yang perlu diperjuangkan. "

"Dan karena ajaran Buddha menekankan pada hukum sebab akibat, saya berharap dengan mereka bisa memberi kebahagian bagi orang lain melalui penampilan mereka yang menghibur, mereka juga akan dapat berkat kebaikan dari kebahagiaan yang mereka tebarkan." katanya.

Seluruh peserta kursus singkat kepemimpinan ini akan kembali berkumpul untuk mengevaluasi proyek studi yang mereka lakukan di masing-masing organisasimya dalam program post course yang akan digelar awal tahun 2019 nanti.

 
SHARES
Komentar