Senin, 10 Desember 2018 – 16:19 WIB

Perlukah Pelajar Sekolah Terlibat Dalam Aksi Unjuk Rasa?

Kamis, 29 November 2018 – 20:00 WIB
Perlukah Pelajar Sekolah Terlibat Dalam Aksi Unjuk Rasa? - JPNN.COM

Sejarah mencatat adanya keterlibatan siswa sekolah dalam aksi politik dengan perjuangan turun ke jalan -pikirkan berbagai contoh seperti gerakan anti-Vietnam dan unjuk rasa 'March for Our Lives' di Washington DC, AS.

Pada hari Senin (26/11/2018), Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menjelaskan bagaimana perasaannya tentang pelajar Australia yang mengambil waktu libur sekolah untuk ikut unjuk rasa.

"Kami tak mendukung gagasan anak-anak tak sekolah untuk berpartisipasi dalam hal-hal yang bisa ditangani di luar sekolah," katanya.

"Kami tak mendukung sekolah kami yang diubah menjadi Parlemen. Apa yang kami inginkan adalah lebih banyak siswa belajar di sekolah dan kurangnya aktivisme di sekolah."

Minggu ini, ratusan pelajar di seluruh Australia mengabaikan saran itu dan bergabung dengan unjuk rasa Student Strike for Climate Action (protes pelajar untuk aksi iklim) -yang dilakukan di Canberra pada hari Rabu (28/11/2018), Hobart pada hari Kamis (29/11/2018), dan ibu kota lainnya mengadakan aksi mereka pada hari Jumat (30/11/2018).

Para ahli mengatakan, ambil bagian dalam aktivisme adalah "terjemahan dari pendidikan kewarganegaraan".

Apa dampak aktivisme terhadap anak?

Psikolog dan penulis, Steve Biddulph, mengatakan aktivisme pelajar memiliki manfaat kesehatan mental yang sangat nyata.

"Scott Morrison benar-benar salah untuk hal yang satu ini," katanya.

"Banyak anak dan remaja dipengaruhi oleh keadaan dunia karena iklim dan kekejaman terhadap pengungsi dan lingkungan umumnya berada di urutan atas."

"Keterlibatan dalam membantu dunia adalah kunci untuk kesehatan mental dan membentuk sosok dewasa yang baik untuk masa depan."

Profesor Michael Platow dari Fakultas Psikologi Penelitian Universitas Nasional Australia (ANU) sepakat.

"Ini semua bagian dari pendidikan kewarganegaraan, itu membuat para siswa terlibat dalam tanggung jawab sipil mereka," katanya.

"Sekolah harus melampaui pengajaran matematika dan sains karena itu bagian dari peran siswa untuk terlibat - mereka diwajibkan oleh negara untuk terlibat."

"Setiap negara demokrasi ingin mereplikasi dirinya sendiri di generasi berikutnya, kami tak ingin rezim lama muncul, kami ingin kewarganegaraan yang merangkul dan terlibat dengan demokrasi yang hidup."

Ia mengatakan orang dewasa tak boleh membiarkan pandangan mereka mengaburkan penilaian mereka tentang kegiatan politik atau sosial anak-anak mereka.

"Kita harus memisahkan nilai-nilai pribadi kita sendiri dari isu itu, dari proses terlibat dalam aktivitas sipil. Kita bisa tidak setuju dengan isu itu tetapi kita tidak bisa tidak setuju dengan prosesnya."

Seberapa muda-kah terlalu muda itu?

Kevan Goodworth, ketua Dewan Organisasi Sekolah Negara Bagian Australia, mengatakan membicarakan usia itu "rumit".

"Saya pikir itu lebih merupakan sesuatu yang Anda tak akan bayangkan, orang yang lebih muda lima atau enam tahun mungkin memiliki minat," katanya.

Ia mengatakan sementara beberapa anak hanya ingin bolos sekolah, sebagian besar benar-benar terlibat dengan isu tersebut.

"Kami hampir selalu menemukan situasi di mana satu atau dua siswa melihat ini sebagai hari libur sekolah, tapi itu tentu saja bukan sesuatu yang saya dengar dari semangat yang ditunjukkan pagi ini dari para siswa yang mengambil sikap," katanya.

"Kami mendorong situasi di mana orang tua dan anak-anak berbicara tentang isu ini di rumah dan berkesimpulan untuk mempertimbangkan pendapat."

Bagaimana soal absensi?

Aturan tentang absen sekolah bervariasi dari satu negara bagian ke negara bagian lain di Australia.

Di New South Wales, pedoman Departemen Pendidikan mengatakan kepala sekolah bisa memberikan pengecualian kehadiran untuk hal-hal seperti partisipasi dalam olahraga elit atau "pekerjaan di industri hiburan", tetapi kegiatan lain harus dirujuk.

Di Tasmania, bahkan dengan izin orang tua ketidakhadiran siswa akan ditandai sebagai "tidak sah" kecuali mereka berada dalam keadaan yang diakui, acara nasional atau internasional atau "berpartisipasi dalam pengalaman belajar yang diakui".

Setelah jumlah ketidakhadiran yang tidak sah, sekolah akan mengirim surat ke rumah untuk meminta penjelasan.

Namun akhirnya, izin orang tua adalah kuncinya.

Nelson File - kepala sekolah Friends di Hobart - mengatakan ia akan lebih suka jika unjuk rasa diadakan pada akhir pekan, tetapi ia mendukung para siswa yang hadir selama orang tua mereka membawa mereka ke sana dan kembali.

"Tujuan sekolah kami adalah agar para siswa berkembang menjadi orang dewasa yang aktif terlibat, yang memahami apa masalahnya dan berpikir tentang jenis masyarakat yang ingin mereka tinggali," katanya.

"Kami ingin siswa yang berpikir jernih tentang cara menciptakan masyarakat yang lebih adil."

Merasa harus berbuat

Pada protes hari Kamis (29/11/2018) di Tasmania, siswa bernama Amelie Hudspeth mengatakan ia tak perlu absen sekolah jika Pemerintah melakukan tugasnya tentang perubahan iklim.

"Sebagai orang muda sangat penting bagi kami bahwa kami memiliki masa depan yang aman, dan sekarang hal ini tidak terjadi," katanya.

"[Perdana Menteri mengatakan] para siswa tak boleh melewatkan sekolah untuk hal-hal yang bisa dikeluarkan dari sekolah, tetapi ia tidak melakukan apa-apa jadi kami harus melakukannya."

Siswa di sekolah Woodbridge, Imogen Viner, mengatakan: "Tanpa aktivisme, tak ada gunanya pergi ke sekolah karena tidak akan ada masa depan yang ingin kami tinggali."

"Australia dulu memimpin dunia dalam energi terbarukan dan sekarang kami tak melakukan apa-apa."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar