Pernyataan Terbaru Kemendikbudristek soal Pembelajaran Tatap Muka, UNICEF Mendukung 

Pernyataan Terbaru Kemendikbudristek soal Pembelajaran Tatap Muka, UNICEF Mendukung 
Kemendikbudristek kembali mempertegas soal pembelajaran tatap muka. Ilustrasi. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Hampir seluruh negara di dunia menutup sekolah selama pandemi. Diperkirakan sebanyak 1,6 miliar murid di seluruh dunia terdampak kebijakan penutupan sekolah. 

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) selaku Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20 (Chair of the G20 Education Working Group), Iwan Syahril menuturkan sejumlah negara di dunia memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan kualitas  bervariasi dari satu negara ke negara lain.

Dia mengatakan pemulihan pendidikan global sangat penting dibahas untuk meraih tujuan pulih bersama.

Indonesia memimpin Presidensi G20 tahun 2022 dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengemban amanat pemulihan bersama. 

“Siswa di seluruh dunia menghadapi masalah akses mendapatkan pembelajaran dan resiko kehilangan pembelajaran atau learning loss. Ini yang harus disikapi bersama-sama,” tutur Iwan, Jumat (8/7).   

Menurut Iwan, lewat pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah, murid-murid mendapatkan lingkungan belajar yang lebih baik.

Selain itu, berbagai studi menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka masih merupakan metode paling baik bagi para siswa maupun siswa.

Senada itu Chief of Education, United Nations Children’s Fund (UNICEF), Katheryn Bennett mengungkapkan bahwa pertemuan tatap muka antara guru dan murid, serta murid dengan teman-teman sekolahnya, tidak bisa tergantikan di negara mana pun.

Kemendikbudristek kembali mempertegas soal pembelajaran tatap muka dan hal itu didukung UNICEF

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News