Selasa, 13 November 2018 – 07:38 WIB

Pesawat Lion Air PK-LQP Alami Masalah Sensor AOA

Kamis, 08 November 2018 – 06:00 WIB
Pesawat Lion Air PK-LQP Alami Masalah Sensor AOA - JPNN.COM

Sebuah sensor penting yang merupakan subjek dari peringatan keamanan Boeing telah diganti pada pesawat Lion Air sehari sebelum jatuh ke Laut Jawa dan mungkin memperburuk masalah lain yang terjadi pada pesawat, demikian diungkapkan penyidik.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan pihaknya telah memiliki kesepakatan dengan Boeing mengenai prosedur yang harus didistribusikan oleh pembuat pesawat secara global tentang bagaimana awak penerbangan dapat menangani masalah pada sensor "angle of attack" atau sensor AOA menyusul kecelakaan yang terjadi pada 29 Oktober yang menewaskan seluruh 189 orang di dalamnya.

Para ahli mengatakan bahwa sensor AOA merupakan parameter penting yang membantu komputer pesawat memahami apakah ujung hidung pesawatnya terlalu tinggi dibandingkan dengan arus udara.

Sensor tersebut memantau sudut hidung pesawat relatif terhadap udara yang mendekat untuk mencegah pesawat berhenti dan meluncur ke darat.

Namun sebuah pernyataan dari Boeing mengatakan peringatan keamanan, telah dikirim ke maskapai penerbangan minggu ini, yang memberikan pengarahan bagi awak penerbang ke pedoman yang ada tentang bagaimana mereka harus menanggapi data AOA yang keliru.

Belum jelas apakah Boeing berencana memperbarui panduan itu, meskipun komentar dari pejabat Indonesia mengindikasikan bahwa mereka mengharapkan demikian.

Isu indikator kecepatan udara dan sensor

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan kesalahan pada indikator kecepatan pesawat yang terjadi pada empat penerbangan terakhir pesawat Lion Air PK-LQP, yang diungkapkan oleh analisis perekam data penerbangan, terkait dengan masalah sensor AOA tersebut.

"Intinya adalah bahwa setelah alat AOA [sensor] diganti, masalahnya tetap tidak terpecahkan, tetapi masalahnya bahkan mungkin meningkat. Apakah ini fatal? KNKT ingin mengeksplorasi ini," katanya.

Dua upaya pertama Lion Air untuk mengatasi masalah indikator kecepatan udara ini tidak berhasil, dan pada penerbangan kedua terakhir pesawat Boeing 737 MAX 8 pada 28 Oktober, alat sensor 'angle of attack' ini diganti, kata Tjahjono.

Pada penerbangan tersebut, dari Bali ke Jakarta, sensor bagi pilot dan co-pilot berlainan.

Pesawat yang baru berusia dua bulan itu secara tiba-tiba mengalami penurunan ketinggian hanya beberapa menit setelah lepas landas, namun pilot berhasil mengendalikannya.

Mereka memutuskan untuk tetap terbang ke Jakarta pada ketinggian yang lebih rendah dari ketinggian normal.

Penyidik Indonesia mengatakan bahwa rekomendasi prosedur penerbangan mereka untuk Boeing didasarkan pada bagaimana awak penerbangan menanggapi masalah yang terjadi pada penerbangan dari Bali ke Jakarta.

"Rancangan [rekomendasi] apa yang akan disampaikan oleh Boeing pagi ini telah disampaikan kepada kami," kata penyidik kecelakaan udara Nurcahyo Utomo.

"Ada beberapa hal yang kami minta penjelasan dan beberapa yang kami minta untuk dihapus, dan telah ada kesepakatan antara KNKT dan Boeing untuk merilis prosedur yang baru bagi semua pengguna Boeing 737 MAX di dunia."

Badan pencarian dan penyelamatan (Basarnas) Indonesia memperpanjang upaya pencarian untuk kedua kalinya pada hari Rabu (7/11/2018) dan mengatakan upaya pencarian akan terus berlanjut sampai hari Minggu (11/11/2018).

Bagian-bagian dari pesawat masih terus ditemukan dan petugas SAR masih berusaha menemukan perekam suara kokpit.

Pesawat Lion Air JT 610 menghantam air dengan kecepatan sangat tinggi hanya 13 menit setelah lepas landas dari Jakarta. Awak pesawatnya sempat meminta izin untuk kembali ke bandara beberapa menit setelah lepas landas.

.

AP/Reuters

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

 
SHARES
Komentar