Pin Clamp dari Besi Tuang

Penyebab Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara

Pin Clamp dari Besi Tuang
Pin Clamp dari Besi Tuang
Hidayat Soegihardjo, anggota tim sebelas, menambahkan bahwa bahan tersebut sebenarnya termasuk bahan yang kuat. FCD 60 itu memiliki kekuatan ulimatum 60 kg/mm kubik. Namun, material yang kerap disebut besi tuang itu dikenal getas. "Kalau harganya tak jauh berbeda. Kalau FCD itu nilainya 0,9 sedangkan baja tuang itu nilainya satu," ujarnya.

Pemilihan FCD 60 itu berkaitan dengan masalah perencanaan semejak awal. Dia menilai sejak semula pihak-pihak yang dilibatkan dalam proyek tersebut kurang kompeten dalam bidang perencanaa. "Ada lack of knowledge," tutur dosen yang mengajar mata kuliah jembatan bentang panjang itu.

Selain pemilihan bahan yang tidak sesuai, tim tersebut juga menemukan persoalan lain. Pada saat pelaksanaan proyek, ternyata tidak memakai uji material, uji fatik atau kelelahan bahan, uji impak, dan uji relaksasi. Pengujian itu dibutuhkan untuk mendapatkan komposisi yang tepat semua bahan yang digunakan. "Misalnya tidak ada uji keropos pada FCD 60," ungkapnya.

Dana pemeliharaan yang minim juga disebut-sebut sebagai faktor lain yang turut membuat jembatan itu hanya bertahan sepuluh tahun. Pada 2011, anggaran pemeliharaan yang disediakan Rp 2,7 miliar. Semestinya, anggaran yang disiapkan pertahun itu senilai dua persen dari biaya pembuatan awal. "Anggaran pemeliharaan terlalu minim," sambung Probo.

SURABAYA - Tim sebelas yang dibentuk Kementrian Pekerjaan Umum membeberkan penyebab ambruknya Jembatan Kutai Kartanagera (Kukar) kemarin (12/1).

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News