PKS Mengendus Dominasi Swasta, Jangan Sampai Harga Listrik 'Liar'

PKS Mengendus Dominasi Swasta, Jangan Sampai Harga Listrik 'Liar'
Politikus PKS Mulyanto membeberkan fakta terkait kontribusi listrik swasta setiap tahun yang semakin dominan. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

"PLTS skala besar semakin hari semakin murah. Bahkan, sudah kompetitif terhadap PLTU. Jadi, Pemerintah harus bisa menjamin harga listrik tetap murah," imbuh Mulyanto.

Pada Rapat Panja Listrik di atas disampaikan Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM dan Dirut PLN, bahwa RUPTL 2021-2030 sudah resmi disahkan pemerintah.

Asumsi pertumbuhan demand dalam RUPTL 2021-2030 ini adalah sebesar 4,9 persen, lebih rendah dari asumsi demand listrik sebelumnya yaitu sebesar tujuh persen.

Tambahan kapasitas baru dalam rentang waktu tersebut adalah sebesar 40.575 MW, turun dibanding dari RUPTL 2019-2028 yang sebesar 56.395 MW.

Dari tambahan kapasitas baru tersebut, kontribusi sumber EBT sebesar 52 persen. Sedang sumber fosil sebesar 48 persen.

Dari sisi kelembagaan, tambahan kapasitas baru tersebut dikontribusi oleh IPP sebesar 65 persen dan sisanya akan dibangun oleh PLN sebesar 35 persen. Kontribusi listrik swasta ini meningkat dibandingkan dengan RUPTL 2019-2028, yang hanya sebesar 56 persen.

"Ini adalah RUPTL yang paling green sepanjang sejarah ketenagalistrikan di Indonesia. Kontribusi listrik dari sumber EBT lebih besar daripada sumber batu bara," tegas Mulyanto. (mcr10/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:

Politikus PKS Mulyanto membeberkan fakta terkait kontribusi Independent Power Producer (IPP) atau listrik swasta setiap tahun yang semakin dominan.


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News