Produsen Tahu dan Tempe di Jember Mogok Masal

Produsen Tahu dan Tempe di Jember Mogok Masal
Produsen Tahu dan Tempe di Jember Mogok Masal

"Kalau bisa ditanamai tanaman lain, saya akan tanam. Kalau lahan di sini bisa ditanami jagung, misalnya. Kami bersama kelompok tani akan menanam jagung yang hasilnya lebih banyak," ungkap Gatot yang juga ketua kelompok tani di Desa Sukorejo, Bangsalsari.

Saat ini ada lebih dari 2.000 hektare tanaman kedelai di kelompok tani yang dipimpin. Usianya sudah sebulan tanam. Panennya tinggal dua bulan lagi. Para petani pun siap menerima kerugian dengan harga murah.

Gatot menyatakan, penanaman kedelai itu membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Yakni, dibutuhkan modal Rp 12.225.000 untuk setiap hektar. Itu terdiri atas sewa lahan yang lengkap dengan pengolahan. Selain itu, ada pupuk, pestisida, tenaga kerja, serta biaya panen. "Biaya yang harus kami tanggung untuk tanam kedelai sangat besar," paparnya.

Jika dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan, keuntungan bersih para petani sangat kecil. Yakni, Rp 14 juta dikurangi Rp 12,2 juta. Hasilnya, petani hanya untung Rp 1.775.000 untuk setiap hektare. "Jika dibagi tiga bulan masa tanam, petani hanya mengantongi uang Rp 500 ribuan. Itu sangat kecil," katanya.

Di sisi lain, keberadaan tahu-tempe di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, dipastikan kosong hari ini (11/9). Sebab, hampir seluruh produsen tempe di Mojokerto mengadakan aksi mogok produksi. Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap harga kedelai yang mahal.

Pengurus Koperasi Tahu-Tempe (Kopti) Mojokerto Kusfar Harianto menyatakan, aksi mogok masal itu dilakukan sebagai reaksi produsen tahu-tempe atas mahalnya kedelai. "Kita sudah berulang-ulang melayangkan protes ke pemerintah. Tapi, tak pernah digubris," kata produsen tempe asal Pulorejo Wetan, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, itu. (rid/hdi/jpnn)

Berita Selanjutnya:
Dada Kasatreskrim Tertembak

JEMBER - Meski harga kedelai melambung tinggi, para petani kedelai di Jember tidak ikut menikmati kenaikan tersebut. Harga panen mereka tetap murah.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News