Ratu Elizabeth II, Warisan yang Tak Ada Duanya

Ratu Elizabeth II, Warisan yang Tak Ada Duanya
Queen Elizabeth II poses for a portrait. (Getty: Litchfield)

 

Elizabeth berusia 13 tahun di tahun 1939, ketika Perang Dunia II pecah dan paham Nazi menyelimuti Eropa.

Ibunya, mediang Elizabeth Bowes-Lyon, merasa yakin untuk menjaga keluarganya di Istana Buckingham saat Jerman menggempur London dengan serangan bom. Saat itu ibunya mengatakan, "anak-anak tak akan pergi tanpa saya. Saya tak akan pergi tanpa Raja, dan Raja tak akan pernah pergi".

Saat perang makin berkecamuk, kedua anak-anak itu dievakuasi ke Kastil Windsor dan di usia 14, Elizabeth tampil pertama kalinya di acara radio.

"Kita tahu dari pengalaman soal apa itu artinya jauh dari yang orang-orang yang kita paling cintai," kata Putri Elizabeth, yang memberikan semangat bagi anak-anak Inggris yang terpaksa terpisah dari keluarganya.

Di tahun 1945, di usia 18 tahun, Elizabeth ikut turun berperang. Ia dilatih untuk menjadi pengendara dan mekanis bersama 'Auxiliary Territorial Service'.

"Salah satu yang membuatnya senang adalah saat tangan dan kukunya kotor dan penuh dengan noda, menunjukkan dirinya sebagai buruh kepada teman-temannya," tulis Collier's Magazine beberapa tahun kemudian.

Sebuah romansa kerajaan 

Di tahun 1947, saat berusia 21 tahun, Elizabeth menikah dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal. Warga Inggris berdarah Yunani, yang juga sepupu jauhnya.

Setelah mendapat warisan takhta di usia 25 tahun, Ratu Elizabeth II meluangkan seluruh hidupnya untuk melayani warganya

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News