Rendang Atau Soto: Globalkan Kuliner Indonesia Pemerintah Diminta Solid

"Walau waralaba luar banyak tetapi jika dihitung dengan warung-warung kecil ya memang besar sekali kontribusinya. Tetapi kalau lihat dari statistik untuk ekspor malah kecil."
Di sisi lain, kata Santhi, meski industri kuliner Indonesia berkembang, polaritasnya masih kalah dibanding negara tetangga. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi.
"Sebagai contoh, Vietnam jika bermigrasi dalam jumlah besar ke suatu negara, mereka hidup dan berkembang. Ada kebutuhan bumbu bagi orang-orang yg tinggal di negara tersebut, dan akhirnya muncul resto-resto Vietnam," jelasnya.
"Butuh bumbu dalam jumlah besar untuk support (mendukung) restoran Vietnam di negara tersebut."
Sementara bisnis kuliner Indonesia di luar negeri, sebut Santhi, hingga saat ini masih belum merupakan bisnis yang serius dan bisa diperluas.
"Kebanyakan bisnis untuk "surviving" atau "mengisi waktu". Bumbu-bumbu yang available (tersedia)-pun akhirnya hanya untuk skala kecil atau kebutuhan rumah tangga," ujarnya.
Santhi juga menyoroti upaya promosi kuliner nasional yang dinilainya kurang maksimal.
"Sebenarnya upaya yang dilakukan saat ini sudah lumayan, sudah ada makanan yang ditetapkan sebagai makanan nasional, walapun makanan Indonesia itu banyak dan satu makanan belum bisa mewakili Indonesia."
- Partai Buruh Menang Pemilu Australia, Anthony Albanese Tetap Jadi PM
- Dunia Hari Ini: Israel Berlakukan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Sepakat untuk Membangun Kembali Ukraina
- Dunia Hari Ini: Pakistan Tuding India Rencanakan Serangan Militer ke Negaranya
- Dunia Hari Ini: PM Terpilih Kanada Minta Waspadai Ancaman AS
- Dunia Hari Ini: Sebuah Mobil Tabrak Festival di Kanada, 11 Orang Tewas