Sabtu, 24 Agustus 2019 – 05:53 WIB

Rob Masih Ancam Jakarta Utara

Rabu, 26 September 2018 – 04:22 WIB
Rob Masih Ancam Jakarta Utara - JPNN.COM

Banjir rob

jpnn.com, JAKARTA - Jakarta Utara (Jakut) menjadi salah satu wilayah yang paling rawan dilanda banjir. Terutama akibat air laut pasang atau rob. Setidaknya terdapat 26 wilayah di Jakarta Utara berpotensi terkena imbas banjir rob.

“Ancaman banjir rob di Jakarta Utara terjadi setiap tahun, seharusnya dapat segera diantisipasi dengan menanam lebih banyak pohon mangrove di pesisir pantai,” ujar Direktur Pusat Pengkajian Jakarta (PPJ) Muhlis Ali, Senin (24/9).

Muhlis mengungkapkan, di kawasan pantai utara Pulau Jawa banjir rob lebih dominan disebabkan faktor topografi dan naiknya muka air laut.

Titik rawan banjir rob meliputi, Penjaringan, Pluit, Kamal muara, Kapuk muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan. Kemudian, Papanggo, Sunter Agung, Warakas, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Jampea, Kramat Jaya, Kelapa Gading, KBN Cakung, Sunter Jaya, dan Yos Sudarso. “Kondisi ini memang menyulitkan, namun tetap harus diatasi. Selain menanam mangrove juga dilakukan dengan memperkuat tanggul,” katanya.

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Nirwono Joga berpendapat kawasan Jakarta Utara seperti Pantai Mutiara Indah Pluit, Jakarta Utara, termasuk wilayah terbuka hijau yang harusnya ditanami mangrove. “Statusnya ruang terbuka hijau yang salah satunya untuk mengatasi masalah banjir Jakarta,” tutur pengamat yang dikenal aktif memperjuangkan peta hijau ini.

Menurut Nirwono maraknya perumahan mewah di kawasan Jakarta Utara yang dekat dengan pantai mempersempit penambahan ruang terbuka hijau. “Termasuk hutan-hutan mangrove di Pluit,” ujar Nirwono. Bahkan, lanjut Nirwono, kawasan Mal Taman Anggrek di Slipi, Jakarta Barat, tadinya termasuk kawasan hutan kota namun kemudian menjadi berubah fungsi.

Nirwono menyoroti semakin terhimpitnya luas lahan terbuka hijau di ibu kota. Pada 1965 luas ruang terbuka hijau di Jakarta mencapai 37,2 persen. Kemudian pada 1985 merosot menjadi 25,8 persen. Pada 2000 luasnya makin parah yaitu tinggal 9 persen. “Tahun sekarang ini 9,8 persen, naik sangat sedikit hanya 0,8 persen,” katanya.

Penambahan luas yang cuma sedikit itu, tutur Nirwono, diperoleh dengan perjuangan yang sangat berat dan untuk ke depannya sangat sulit untuk bisa bertambah lagi. “Normalisasi itu suatu keharusan. Kita sepakat itu," pungkasnya. (nas)

Sumber : Indopos
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar