Rokan Hulu dan Kemiskinan

Oleh: Aditya Reza

Rokan Hulu dan Kemiskinan
Aditya Reza Syahputra. Foto: dokpri

Artinya, masyarakat di daerah dengan nilai IPM yang tinggi memiliki akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Selain itu, nilai IPM yang tinggi juga menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki kebijakan pembangunan yang efektif dan berhasil dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Daerah dengan nilai IPM yang tinggi cenderung memiliki tingkat kemiskinan yang lebih rendah, akses yang lebih baik terhadap pendidikan dan kesehatan, serta ekonomi yang lebih stabil dan berkembang. Serta lebih mampu menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim dan turbulensi ekonomi.

Berbagai jaring pengaman sosial pada 2022 yang telah diprogram dan dilaksanakan seperti bantuan PKH, Prakerja, bantuan peralihan subsidi BBM, BPNT, dan sebagainya ternyata belum mampu menurunkan jumlah penduduk miskin yang ada di Rokan Hulu.

Selama 2022 produksi perkebunan kelapa sawit di Kab. Rokan Hulu menjadi yang tertinggi di Prov. Riau dengan total produksi sebesar 695.965 ton, dengan luas perkebunan kelapa sawit terbesar di kabupaten rokan hulu.

Namun, itu semua tidak mampu menurunkan jumlah penduduk miskin.

Ironi memang, 89,64% luas area tanaman di Rokan Hulu merupakan sawit, tetapi sang primadona yang dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, ternyata belum mampu untuk mengentaskan kemiskinan yang ada.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tentunya perkebunan yang ada, dimiliki oleh individu maupun perusahaan, lantas bagaimana CSR perusahaan terhadap masyarakat sekitar ataupun daerah setempat?

Semoga Kabupaten Rokan Hulu keluar dari peringkat pertama jumlah penduduk miskin tertinggi di Provinsi Riau.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News