Rupiah Sedikit Tertekan, tetapi USD Masih di Bawah Rp 14.000

Rupiah Sedikit Tertekan, tetapi USD Masih di Bawah Rp 14.000
Mata uang rupiah. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pada penutupan Selasa (9/6) sore, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, mendapat tekanan tetapi masih di bawah Rp 14.000 per dolar AS (USD).

Rupiah ditutup melemah lima poin atau 0,04 persen menjadi Rp 13.890 per USD dari sebelumnya Rp 13.885 per USD.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa, mengatakan, Bank Dunia dalam laporannya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, akan mengalami fase yang mengkhawatirkan yaitu pertumbuhan ekonomi yang flat atau datar, di posisi nol persen.

"Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi saat ini yang terus membaik, itu bisa dilihat dari IHSG dan mata uang Garuda yang terus menguat dan ini pun di luar prediksi pemerintah dan Bank Indonesia," ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, proyeksi yang dirilis Bank Dunia tersebut kalah menarik dengan rilis cadangan devisa Indonesia yang naik 2,6 miliar USD pada Mei sehingga arus modal asing kembali masuk ke pasar valas dan obligasi.

Bank Dunia dalam laporannya menyebutkan akan terjadi resesi ekonomi global di 2020.

Kegiatan ekonomi internasional akan menyusut 5,2 persen tahun ini atau merupakan resesi terdalam, sejak Perang Dunia II dan kontraksi output pertama di negara berkembang dalam enam dekade terakhir.

Ekonomi AS misalnya diprediksi terkontraksi 6,1 persen. Sementara kawasan Eropa minus 9,1 persen dan ekonomi Jepang akan menyusut 6,1 persen.

Pada penutupan Selasa (9/6) sore, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, mendapat tekanan tetapi masih di bawah Rp 14.000 per dolar AS.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News