Rupiah Semakin Tertekan

Tembus Level Psikologis Rp 12.000 Per USD

Rupiah Semakin Tertekan
Rupiah Semakin Tertekan

jpnn.com - JAKARTA - Pertahanan rupiah akhirnya jebol juga. Setelah tiga pekan bertahan di kisaran 11.700"11.900, rupiah kemarin menembus level psikologis 12.000 per USD.

 

Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung (CT) menyatakan, pelemahan nilai tukar saat ini terjadi karena menumpuknya kebutuhan valuta asing (valas) sebagai akibat pembayaran dividen kepada pemegang saham di luar negeri.

"Jadi, ini sifatnya seasonal (musiman)," ujarnya di kantor Kemenko Perekonomian kemarin (24/6).
 
Berdasar data Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia (BI), rupiah kemarin (24/6) ditutup di level 12.000 per USD, melemah jika dibandingkan dengan penutupan Senin (23/6) di posisi 11.971. Posisi 12.000 per USD itu merupakan yang terendah sejak 13 Februari 2014. Ketika itu rupiah berada di level 12.073 per USD.
 
Sementara itu, di pasar spot berdasar data Bloomberg, rupiah yang pekan lalu wara-wiri di 12.000-an per USD kemarin justru sedikit menguat ke level 11.989. Di kawasan Asia-Pasifik, kurs mata uang terlihat bergerak variatif.

Mata uang yang kemarin menguat terhadap USD adalah dolar Australia, rupee India, ringgit Malaysia, dan yen Jepang. Mata uang yang melemah terhadap USD, antara lain, dolar Hongkong, dolar Singapura, peso Filipina, dan yuan Tiongkok.
 
Menurut CT, selain periode repatriasi atau pembayaran dividen oleh perusahaan penanaman modal asing (PMA), Mei dan Juni berbarengan dengan masa pembayaran cicilan utang luar negeri. "Karena itu, kebutuhan dolar (AS) naik dan menekan rupiah," katanya.
 
Bagaimana prospek ke depan? CT memproyeksi, tekanan terhadap rupiah akan mereda pada Juli mendatang. Selain selesainya periode repatriasi dan pembayaran cicilan utang luar negeri, rupiah berpotensi mendapat sentimen positif dengan masuknya investor setelah pemilihan presiden 9 Juli mendatang. "Tentu dengan catatan pemilu berjalan baik dan tidak ada keributan," ucapnya.
 
Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina mengungkapkan, depresiasi rupiah memang sudah diproyeksikan terjadi pada Juni ini. Salah satu faktornya adalah tingginya impor barang konsumsi untuk persiapan puasa dan Lebaran sehingga kebutuhan USD naik.

"Tapi, kalau rupiah melemah tajam ke 12 ribu (per USD), BI pasti intervensi untuk menjaga agar volatilitas tidak terlalu tinggi," ujarnya.
 
Menteri Keuangan Chatib Basri memiliki analisis tersendiri terkait dengan depresiasi rupiah akhir-akhir ini. Selain faktor fundamental, lanjut dia, rupiah melemah karena faktor sentimen memanasnya tensi politik menjelang pemilihan presiden karena kompetisi makin ketat. Apalagi survei-survei terkini menunjukkan perolehan suara dua pasangan capres-cawapres tidak akan terpaut jauh.
 
Hal itu, kata Chatib, berpotensi memicu sengketa jika ada salah satu pasangan capres-cawapres yang tidak bisa menerima hasil pemilu dan menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan itu bisa memicu goyahnya stabilitas politik dan ekonomi Indonesia.

"Orang luar melihat potensi dispute (perselisihan) hasil pemilu kalau perbedaan perolehan suaranya tipis," katanya.
 
Selain itu, rilis survei Deutsche Bank menunjukkan adanya kekhawatiran investor jika pasangan Prabowo-Hatta memenangi pemilihan presiden. Dalam survei bertajuk "Indo Strategy Political Series" itu, 56 persen investor akan melakukan aksi jual dan hanya 13 persen yang melakukan aksi beli jika pasangan Prabowo-Hatta menang.

Sebaliknya, 74 persen investor akan melakukan aksi beli dan hanya 6 persen yang melakukan aksi jual jika pasangan Jokowi-Jusuf Kalla menang.
 
"Total 87 persen investor percaya kepemimpinan pemerintahan berikutnya akan memengaruhi keputusan investasi mereka di Indonesia," jelas survei tersebut.
 
Meski demikian, lanjut Chatib, secara fundamental, ekonomi Indonesia diperkirakan membaik pada triwulan III 2014. Dia menyebutkan, siklus neraca perdagangan biasanya membaik pada triwulan III.

JAKARTA - Pertahanan rupiah akhirnya jebol juga. Setelah tiga pekan bertahan di kisaran 11.700"11.900, rupiah kemarin menembus level psikologis

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News