Rabu, 22 Mei 2019 – 04:10 WIB

Sakdiyah Ma'ruf: Indonesia Penuh Lelucon Politik, Saatnya Komedi Memimpin

Jumat, 03 Mei 2019 – 16:00 WIB
Sakdiyah Ma'ruf: Indonesia Penuh Lelucon Politik, Saatnya Komedi Memimpin - JPNN.COM

Usai pemilihan umum, komedian hijabi pertama dan ternama kelahiran Pekalongan mengatakan siapa yang akan menjadi "lawan politik" Indonesia masih belum jelas.

Hal ini disampaikan Sakdiyah Mar'uf saat berkunjung ke kantor ABC Melbourne, hari Kamis (2/05).

Ia sedang berada di Melbourne untuk tampil dalam sebuah acara stand-up comedy memperingati perjuangan Kartini yang diselenggarakan Forum Masyarakat Indonesia di Australia.

Sakdiyah mengatakan terlalu banyak lelucon yang terjadi selama menjelang pemilu yang lalu, karenanya ia berpendapat saatnya para komedian dengan sindirannya bisa "memimpin" dengan pesan soal ketidakadilan dan kemanusiaan.

"Salah satu tantangannya adalah kita tidak tahu lagi siapa lawan yang akan dihadapi," ujar Sakdiyah kepada Sean Mantesso dari ABC News.

"Apakah grup konservatif atau fundamentalis? Atau bahkan negara."

Simak wawancara ABC News dengan Sakdiyah Ma'ruf disini.

Ia mencontohkan beberapa orang yang ditangkap dan masuk penjara dengan tuduhan menghina presiden di era kepemimpinan Joko Widodo.

Sejumlah kalangan berpendapat kebebasan pers dan berekspresi di Indonesia belum sampai ke tingkatan memburuk, tetapi sudah mengkhawatirkan.

Belum lagi para korban UU ITE yang mengaku kepada ABC Indonesia jika hak berbicara semakin terancam.

"Jadi kita berada di persimpangan kebebasan berekspresi," kata Sakdiyah, yang pernah masuk dalam daftar 100 perempuan inspiratif dunia dari BBC.

Sakdiyah juga menceritakan pengalamannya saat ikut tampil bersama 60 komedian Indonesia lainnya beberapa waktu lalu.

Ia mengaku sejumlah pengemarnya menyampaikan rasa kekecewaannya, karena hanya kurang dari lima komedian yang tidak mengangkat topik seksual sebagai materi komedi.

"Artinya komedian sendiri menahan diri [untuk tidak berbicara politik], yang seharusnya tidak mereka lakukan."

"Di Australia, political correctness, atau upaya menghindari perbuatan dan perkataan yang dapat menyakiti kelompok dari suku, agama, dan gender tertentu menjadi hal yang ramai dibicarakan sejak lama.

Menurutnya hal tersebut juga penting dipertimbangkan karena dalam sebuah pertunjukan komedi selalu ada yang menjadi "korban" bahan lawakan.

"Tapi bagi saya, kita harus berbicara kebenaran dan tidak menjadikan mereka yang sudah jadi korban seksisme, rasisme, agama sebagai korban [lawakan]," ujarnya.

Saat berada di atas panggung, bahan lawakan Sakdiyah seringkali adalah sindiran soal kehidupannya sendiri sebagai seorang Muslimah di Indonesia.

Tapi ia menekankan bahwa yang ia bicarakan adalah bukan soal Islam sebagai agama, melainkan soal Muslim sebagai manusia yang juga punya kesalahan.

"Saya berharap Allah memaafkan saya," ujarnya.

"Bagi saya komedi juga adalah jalan spiritual karena bisa menyelami kehidupan sendiri dan masyarakat dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit."

Sakdiyah akan tampil di Drill Hall, Multicultural Hub, Melbourne, hari Sabtu (4/05) mulai pukul 4 sore.

Simak berita-berita ABC Indonesia lainnya di sini.

 
SHARES
Komentar