Selain Beras, Data Rumput Laut Juga Bermasalah

Selain Beras, Data Rumput Laut Juga Bermasalah
Wakil Ketua Umum Astruli Sasmoyo Boesari (kanan) bersama Ketua Umum Astruli Soerianto Kusnowirjono (tengah), dan Sekjen Astruli Arman Arfah saat diskusi Internal Astruli di Jakarta, Kamis (18/1). Foto: Dok. Astruli

Data pembelian industri dalam negeri itu dihimpun Astruli. Pada tahun 2015, kelebihan produksi mencapai 778.129 ton rumput laut kering. Kekeliruan data itu sudah terjadi sejak tahun 2012 lalu.

“Dari data tersebut berarti ada kelebihan produksi yang sangat besar. Kalau dicari kelebihan produksi tersebut ada dimana, tidak ada barangnya? Jadi kemana jumlah rumput laut yang sangat banyak itu disimpan,” kata Jana Tjahjana selaku pakar dan peneliti rumput laut dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Menurutnya, data produksi yang keliru tersebut menyebabkan kebijakan terkait rumput laut pun bisa menjadi tidak tepat. Hal tersebut harus dibenahi sehingga Indonesia punya data rumput laut yang tepat dan kekeliruan selama ini bisa diatasi.

Sebelumnya, Direktur Ocean Watch Indonesia (OWI) Herman Jaya mengatakan bahwa komitmen pemerintahan Joko Widodo untuk mengembangkan komoditas rumput laut sudah ditunjukkan sejak awal kepemimpinannya. Hal itu harus didukung dengan data yang akurat berdasarkan fakta lapangan sehingga kebijakannya tepat sasaran.(fri/jpnn)


Produksi rumput laut diklaim berlebihan, tetapi pelaku industri pengolahan justru kesulitan bahan baku.


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News