Senior Chris

Senior Chris
Dahlan Iskan di Edinburgh, Skotlandia. Foto: disway.id

jpnn.com - Sudah sepuluh hari saya tidak menerima WA dari senior saya itu: Christianto Wibisono. Tumben.

Biasanya hampir tiap hari beliau mengirimi saya info. Apa saja. Ekonomi, politik, agama, isi Disway pagi itu, dan –ini yang saya baru tahu– soal usulnya ke Gubernur Ali Sadikin agar membuka judi.

Pak Chris, begitu saya memanggil Christianto Wibisono, meninggal Rabu lalu.

Ia senior saya di majalah TEMPO. Ia ikut mendirikan majalah itu di tahun 1971. Waktu saya masih berstatus magang tiga bulan (1975), namanya masih tercantum sebagai salah seorang direktur di majalah itu.

Praktis TEMPO saat itu didominasi orang Pantura: Harjoko Trisnadi orang Semarang, Chris orang Semarang, Goenawan Mohamad orang Batang, Fikri Jufri orang Pekalongan. Dirutnya yang orang Manado: Eric Samola. Baru Pak Eric dan Chris yang meninggal.

Namun, saya tidak pernah melihat Pak Chris di kantor. Saya tidak pernah bertemu. Saya juga tidak pernah bertemu Goenawan Mohamad. Selama tiga bulan itu saya ingin sekali melihat Goenawan Mohamad itu seperti apa. Ia saya dewakan waktu itu.

Yang aktif memimpin TEMPO saat itu sastrawan Bur Rasuanto –orang Rasuan, Sumsel, yang nama aslinya Burhanuddin. Bur-lah mentor magang saya.

Kelak, tiga tahun kemudian saya baru bertemu Goenawan Mohamad. Bahkan ia-lah yang mengedit tulisan panjang saya, laporan utama soal tenggelamnya kapal Tampomas, –dengan pujian.

Pasangan Puan-Anies sulit dilawan calon mana pun, tulisnya. Seluruh partai akan di belakangnya. Kecuali...