Rabu, 21 Agustus 2019 – 08:25 WIB

Serangga Tomcat Serang Bungursari

Kamis, 22 Maret 2012 – 05:34 WIB
Serangga Tomcat Serang Bungursari - JPNN.COM

TASIK – Serangan serangga Tomcat tak hanya menyerang di wilayah Jawa Timur saja. Di Bungursari, Kota Tasikmalaya enam keluarga telah menjadi korban serangan serangga yang bisa membintikan dan mengelupuhkan kulit ini.

Siti Jamilah (39), istri anggota polisi di Polres Tasikmalaya Kota mengaku lima anggota keluarganya menjadi korban Tomcat. Wanita yang tinggal di Perumahan Aboh Kelurahan Sukamulya Kecamatan Bungursari ini mengaku salah satu anaknya malah tidak masuk sekolah gara-gara sakit karena serangan serangga itu.

“Anak saya tiga-tiganya kena (serangan Tomcat). Sadam, Arijal, sama Karin. Kalau malam itu banyak ada ribuan negerubutin lampu. Kalau (misalnya) ada air di dalam baskom itu pasti penuh (diisi Tomcat),” kata Siti saat ditemui di rumahnya kemarin (21/3).

Kondisi parah dialami anak ketiganya, Karina (11). Hampir sebagian besar badannya bewarna merah seperti terkena penyakit herpes. Serangan Tomcat, kata dia, menyerang keluarganya sejak 10 hari lalu. Hanya saat itu dia tidak mengetahui penyebab timbulnya bintik-bintik merah yang kemudian menjadi gelembung dan melepuhkan kulit anak-anaknya.

Malah, tak hanya keluarganya yang terkena efek serangan Tomcat. Sepengetahuannya ada enam keluarga yang terkena serangga yang mengeluarkan racun ini.
Perkiraannya, anggota keluarganya itu terkena racun Tomcat, karena serangga yang memiliki cairan berbahaya itu menempel di pakaian yang dijemur di luar rumah. Terlebih rumah Siti dekat dengan pesawahan.

“Tiba-tiba langsung ada bintik merah saja (di kulit). Tidak kelihatan waktu menggigitnya. Saya curiganya nempel di pakaian yang dijemur, kebetulan saya sering nyuci malam hari,” paparnya.

Menurut Karin, anak Siti, sebelum timbul bintik merah efek gigitan Tomcat, kulitnya terasa panas seperti terbakar. Selang dua sampai tiga hari timbul gelembung dan tidak lama kemudian gelembung itu pecah sehingga kulit mengelupas. “Pertamanya (setelah digigit, red) perih kayak terbakar. Dua sampai tiga hari kemudian tiba-tiba ada nanahnya. Terasanya (terasa panas) bangun tidur atau siang,” jelasnya.

Sementara itu menurut petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kelurahan Sukamulya Landi, serangga Tomcat merupakan jenis serangga yang memiliki cairan berbahaya, karena dapat membuat kulit melepuh melalui cairan yang dimilikinya. “Yang paling bahaya itu airnya. Orang yang sudah menjadi korban harus segera dibawa ke puskesmas,” ujarnya kemarin.

Serangga ini berkembang biak di sawah. Tomcat juga pemangsa hama wereng dan senang hidup di tempat lembab.  Adapun waktu perkembangbiakan serangga ini biasanya terjadi pada musim hujan, bulan Maret hingga April. Di musim kemarau, kata dia, serangga ini akan menghilang karena cuacanya sudah tidak cocok.

Serangga ini juga peka terhadap cahaya sehingga ketika melihat lampu, maka akan datang mengerubuti sumber cahaya tersebut. Musuh alami Tomcat menurutnya adalah binatang sejenis laba-laba atau burung pemangsa.

Untuk langkah pencegahan Tomcat, saran dia, warga memadamkan lampu di malam hari. Adapun langkah pembasminya yaitu menggunakan pestisida nabati berupa daun sirsak yang ditumbuk sebanyak lima kilogram dicampur air lima liter, dan satu sendok teh detergen.

Daun yang ditumbuk itu kemudian direndam di dalam air bercampur detergen selama 24 jam kemudian tambahkan pestisida kimia cirtaco.  “Disisi lain Tomcat menguntungkan petani karena binatang ini adalah pemangsa hama wereng,” pungkasnya. (pee)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar