Sering Sakit Leher Pertanda Gejala Kolesterol Tinggi?

Sering Sakit Leher Pertanda Gejala Kolesterol Tinggi?
Sakit leher. Foto: Ilustrasi

jpnn.com - Meski sering dikaitkan, kenyataannya antara sakit leher dan kolesterol tinggi tidak berhubungan. Bahkan fakta sebenarnya, kolesterol tinggi umumnya tidak menunjukkan gejala sama sekali sampai berbagai komplikasinya datang menghampiri.

Mengenal ragam kolesterol darah
Sejatinya, dalam tubuh terdapat beberapa jenis kolesterol. Ada yang bersifat baik maupun jahat. Kolesterol baik dalam tubuh disebut High-density Lipoprotein (HDL).

Oleh tubuh, kolesterol baik ini digunakan untuk menjaga kesehatan organ-organ tubuh, mencegah kerusakan pembuluh darah, melindungi dinding pembuluh darah dari penyempitan dan menurunkan risiko stroke serta penyakit jantung di kemudian hari. Jadi, semakin tinggi kadar HDL dalam darah, akan semakin baik untuk kesehatan. 

Bertolak belakang dengan HDL yang sifatnya baik, kolesterol jahat darah dapat sangat merusak dinding pembuluh darah. Selain itu juga menyebabkan sumbatan dan hambatan aliran darah, serta berpotensi mengundang stroke dan serangan jantung mematikan di masa mendatang.

Kolesterol jahat ini terdiri dari dua jenis, Low-Density lipoprotein (LDL) dan trigliserida. Ketika dikatakan kolesterol tinggi, berarti kadar kolesterol jahat ini jumlahnya melimpah di dalam tubuh.

Hati-hati, semakin banyak jumlah kolesterol jahat dalam tubuh, semakin tinggi pula potensi komplikasi yang mungkin terjadi. 

Tidak bergejala, sampai timbul komplikasi
Sayangnya, kolesterol tinggi umumnya tidak bergejala sama sekali. Jadi, jika ada yang beranggapan kolesterol tinggi didapat oleh orang yang kerap merasakan sakit leher, hal tersebut tidak benar. Kolesterol tinggi hanya dapat diketahui secara pasti melalui pemeriksaan darah di laboratorium.

Tidak jarang kondisi ini baru terdeteksi dalam pemeriksaan darah lengkap, setelah seseorang terserang stroke atau serangan jantung. Padahal, sebelumnya tidak ada gejala yang dirasakan sama sekali.

Tidak jarang kondisi ini baru terdeteksi dalam pemeriksaan darah lengkap, setelah seseorang terserang stroke atau serangan jantung. Padahal, sebelumnya tidak ada gejala yang dirasakan sama sekali.

Sumber klikdokter

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News