Setiawan Djody Kembali Bermusik setelah Sukses Jalani Ganti Hati

Lebih Baik Mati Sambil Teriak daripada Mati Menua

Setiawan Djody Kembali Bermusik setelah Sukses Jalani Ganti Hati
Setiawan Djody bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo pada saat Kantata Barock tampil di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jum'at (30/12). Foto : Arundono/JPNN

"Gitar khusus yang saya pakai beratnya lumayan juga lho, sekitar 5 kilo. Nanti persisnya saya timbang," canda pemilik nama lengkap Kanjeng Pangeran Haryo Salahuddin Setiawan Nur Hadiningrat itu, lantas tertawa.

Meskipun dominan berdiri, sesekali memang beristirahat dan panggung diserahkan kepada Iwan Fals. Selebihnya, kalaupun berat gitar itu terasa semakin membebani, cucu pahlawan nasional dr Wahidin Sudirohusodo itu memanfaatkan kursi yang ada di panggung sambil bermain gitar. "Saya setengah duduk saja. Kan itu bagian dari style juga," imbuh pria kelahiran Solo, 13 Maret 1949 tersebut.

Pada Juni 2009 Djody menjalani sebuah operasi besar di Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Singapura. Dia harus operasi setelah penyakit sirosis liver yang positif dideritanya sejak 2007 tak kunjung sembuh. Bahkan, kondisinya semakin memburuk. Selama proses operasi, beberapa titik kritis antara hidup dan mati harus dilewatinya.  "Namun, perbedaan tentu ada. Saya yang sekarang tentu beda dengan saya dulu. Saya sebelum sakit tentu beda dengan setelah sakit," katanya.

Djody mengaku, setelah sembuh dari sakit, kemampuannya bermusik sedikit berbeda. Terutama dalam bermain gitar. Dia merasa ada yang berbeda dalam memainkan senar-senar gitar listriknya. "Ibarat seorang samurai, bermain gitar saya sekarang lebih memakai mata hati. Kalau dulu itu kan 50 persen pakai mata sambil bermain melihat gitar dan 50 persennya pakai hati," jelasnya.

Setelah cukup lama vakum dari berbagai aktivitas karena sakit, musikus dan pengusaha Setiawan Djody kembali menggelar konser di Gelora Bung Karno

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News