Si Kutu

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Si Kutu
Lionel Messi. Foto: Twitter@CopaAmerica

Sebuah bola panjang dari lapangan tengah mengarah langsung ke Angel Di Maria yang menunggu di sayap kanan. Di Maria laksana malaikat tanpa sayap yang menyelinap di antara "back four" Brasil yang dikomandani Thiago Silva. Di Maria terbang melayang mengontrol bola memasuki kotak penalti.

Kiper Ederson Moraes mencium bahaya dan mencoba keluar menutup ruang gerak Di Maria, tetapi sudah terlambat.

Dengan tenang, sambil tersenyum, Di Maria menyongkel bola dengan punggung kakinya. Bola melayang melewati kepala Ederson menukik masuk ke gawang.

Satu gol menjadi pembeda dua tim musuh bebuyutan itu. Satu gol mengukir sejarah bagi Leo Messi, sang kapten. Kemenangan ini begitu berarti bagi Messi yang merasa terkutuk, karena sepanjang kariernya yang cemerlang belum memberikan satu gelar pun bagi tim Argentina.

Messi adalah La Pulga, Si Kutu.

Ia kutu kecil yang menjadi dewa sepak bola dengan kemampuan skill super human. Tidak ada manusia di planet yang punya kemampuan alamiah seperti Messi. Ia datang dari planet lain. Ia adi-manusia, melampaui manusia.

Messi adalah Si Kutu, karena ketika masih kecil Messi memiliki kelainan hormon, sehingga ia tidak bisa tumbuh besar seperti anak-anak lainnya. Karena itu, kakak Messi, Rodrigo, memanggilnya dengan sebutan La Pulga.

Bagi anak-anak kecil, sebutan Si Kutu bisa bermakna bullying atau rundungan. Mungkin mirip dengan pemain Indonesia Kurniawan Dwi Julianto yang dijuluki Si Kurus, atau mantan pemain Arema Arif Suyono yang lebih dikenal sebagai "Keceng" karena badannya yang tipis.

Kemenangan Argentina disebut sebagai Kudeta di Maracana, pertanyaannya sekarang akankah terjadi Kudeta Wembley?

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News