Senin, 27 Mei 2019 – 10:14 WIB

Sistem Distribusi BBM Tertutup Berlaku Awal Januari

Kamis, 18 November 2010 – 19:30 WIB
Sistem Distribusi BBM Tertutup Berlaku Awal Januari - JPNN.COM

JAKARTA - Untuk membatasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, serta agar subsidi tepat sasaran ke masyarakat yang lebih berhak, pemerintah memastikan akan memberlakukan sistem distribusi tertutup BBM. Pemberlakuannya disebutkan bakal dimulai pada 1 Januari 2011.

"Sistem distribusi BBM tertutup, 1 Januari sudah akan dijalankan," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (18/11).

Sistem distribusi BBM tertutup ini, menurut Menkeu, juga untuk mengantisipasi banyaknya kebocoran subsidi BBM yang justru ikut dinikmati oleh kalangan mampu. Pemerintah pun saat ini tengah bersiap-siap membuat laporan kepada DPR RI, bilamana alokasi anggaran BBM subsidi dalam APBN-P 2010 sebesar Rp 89,3 triliun ternyata melebihi kebutuhan sebelum akhir tahun.

"Tapi bagaimanapun saya yakin, anggaran kita masih mencukupi, karena harga minyak mentah (ICP) lebih rendah. Selain itu, ada penguatan rupiah. Jadi saya pikir masih memadai-lah," kata Agus.

Disebutkan Agus, diperkirakan kuota BBM bersubsidi sebanyak 36,5 juta kiloliter akan membengkak menjadi 38,5 juta kiloliter. Untuk mencegah pembengkakan tersebut, pemerintah menilai sistem BBM subsidi tertutup bisa menjadi solusi. Hanya saja, untuk teknis pelaksanaannya sendiri, Agus belum menjelaskan secara detail.

"Kita masih membutuhkan pembicaraan lebih lanjut dengan DPR RI," ujar mantan Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri tersebut.

Saat ini, harga minyak tercatat telah melewati USD 85 per barel di perdagangan Asia. Pengamat perminyakan, Kurtubi, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak tersebut dapat berdampak terhadap naiknya penerimaan migas, sehingga subsidi BBM pun bisa bertambah. "Harusnya kenaikan penerimaan jauh lebih besar daripada kenaikan BBM, sehingga APBN dan perekonomian tidak tergerus akibat kenaikan harga minyak," katanya.

Kurtubi mengatakan, agar penerimaan migas lebih besar daripada kenaikan subsidi, maka harus ditingkatkan produksi minyaknya. Tetapi sayangnya, untuk 2010, sasaran lifting minyak dalam APBN justru harus gagal dicapai.

"Sasarannya 960 ribu barel per hari, produksinya malah lebih rendah dari itu. Seharusnya kalau harga naik lagi seperti ini, produksinya harus ditingkatkan, sehingga penerimaan bisa ikut meningkat untuk bisa menutup subsidi. Kalau produksi rendah, sasarannya tidak tercapai, maka penerimaan tidak sebesar yang diharapkan," jelas Kurtubi. (afz/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar