Siswa Tewas Dipicu Masalah PJJ Bertambah Lagi, KPAI Keluarkan 5 Rekomendasi

Siswa Tewas Dipicu Masalah PJJ Bertambah Lagi, KPAI Keluarkan 5 Rekomendasi
Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti. Foto: Humas KPAI for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyentil dua menteri di kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah tewasnya seorang siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Utara pada Selasa (27/10) lalu.

Siswa (15) SMP itu ditemukan sudah tak bernyawa akibat gantung diri dalam kamar mandi di rumahnya.

Program pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19, diduga kuat menjadi pemicu pelajar itu nekat mengakhiri hidup.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan kasus tewasnya siswa SMP (15) di Tarakan, bukan yang pertama. Sebelumnya seorang siswi (17) SMA di Kabupaten Gowa juga bunuh diri akibat depresi menghadapi tugas-tugas sekolah yang menumpuk selama PJJ fase kedua.

Sementara pada September 2020, seorang siswa SD (8) di Kota Tangerang mengalami penganiayaan dari orang tuanya sendiri karena sulit diajari PJJ.

"Ada tiga nyawa anak yang menjadi korban karena beratnya PJJ selama pandemi," kata Retno dalam keterangan yang diterima jpnn.com, Jumat (30/10).

Menyikapi kasus ini, KPAI menyampaikan lima rekomendasi untuk pemerintah dan instansi terkait agar kasus ini tidak terjadi lagi.

Pertama, KPAI meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PJJ fase kedua yang sudah berjalan selama empat bulan.

KPAI sentil dua menteri pascatewasnya siswa SMP di Tarakan, akibat gantung diri setelah mengeluhkan beratnya bebas tugas PJJ.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News