Sopir Taksi Online Dibunuh, Istri Cerita Saat-saat Terakhir

Sopir Taksi Online Dibunuh, Istri Cerita Saat-saat Terakhir
Handarri (kiri) semasa hidup bersama istrinya. Foto: ISTIMEWA

Menurut Ulfa, aktivitas suaminya selama menjadi sopir online terhitung wajar. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini tidak pula begitu menggebu-gebu mencari penumpang. Tidak seperti kebanyakan sopir lain yang memilih lokasi ngetem, Handarri lebih banyak standby di rumah. Menunggu order.

Selama puasa, Handarri biasanya mulai standby sehabis salat Subuh. Dan, paling lama, hingga pukul 17.00 Wita. Dia selalu pulang untuk menikmati waktu buka puasa bersama. Setelah itu kembali beraktivitas sebagai sopir angkutan online. Sampai pukul 22.00 Wita.

“Biasanya habis antar penumpang langsung pulang. Nanti jalan lagi kalau sudah dapat order lagi,” ungkapnya.

Perempuan 26 tahun itu mengaku terakhir bertemu suaminya Selasa (12/6) pagi. Saat dia berpamitan untuk berangkat kerja ke kantornya di Jalan Soekarno-Hatta, Kilometer 5, Balikpapan Utara. Saat itu, Handarri masih bersantai di rumah. Belum ada orderan.

“Tidak ada komunikasi juga selama hari itu karena saya jarang juga pegang handphone selama bekerja. Paling baru bisa komunikasi saat istirahat,” imbuhnya.

Ulfa mengatakan mendapat informasi tentang kondisi suami dari adik iparnya, Melly. Adik kandung Handarri ini menghubunginya sekitar pukul 11.00 Wita. Dia mendapati kabar penemuan mayat yang ternyata adalah suaminya.

“Bersyukur juga mayat langsung ketemu, bisa langsung dikuburkan, jadi dimudahkan jalannya,” sebut dia.

Rasanya seperti mimpi. Mimpi buruk. Suaminya pergi meninggalkan dunia justru sebagai korban pembunuhan.

Maria Ulfa cerita tentang sosok suaminya, Handarri, sopir taksi online yang dibunuh secara sadis dan jasadnya ditemukan di semak-semak.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News