Soroti Mutu Pendidikan Indonesia, Ketum PGRI Pakai Frasa 'Gawat Darurat'

Soroti Mutu Pendidikan Indonesia, Ketum PGRI Pakai Frasa 'Gawat Darurat'
Ketum PB PGRI Unifah Rosyidi dalam TING XIII-FKIP 2021. Foto tangkapan layar

Masalahnya, lanjutnya, konsistensi para pengambil kebijakan di pemerintah untuk melanjutkan hal itu dan bukan diganti dengan kebijakan baru. Lantas jika ada kesalahan yang dijadikan kambing hitam guru.

"Bisa tidak para petinggi kita konsisten melanjutkan yang sudah diperbaiki, bukan selalu diganti dan sebagainya. Kemudian dengan enaknya mengatakan ini karena gurunya. Biasanya gurunya yang selalu disalahkan," tegasnya.

Padahal banyak persoalan yang perlu dibenahi untuk menjadikan ekosistem pendidikan lebih baik. Saat ini kondisinya gawat darurat guru. Unifah menyodorkan data bahwa jumlah ASN guru 48 persen selebihnya adalah guru honorer.

Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka Prof Ojat Darojat M.Bus., Ph.D berharap melalui TING XIII-FKIP 2021 akan muncul ide-ide dan gagasan baru terkait implementasi literasi digital dan merdeka belajar yang muncul dari penyelenggara pendidikan itu sendiri, seperti guru, dosen, mahasiswa dan tenaga pendidikan atau pemerhati dalam bidang pendidikan.

Literasi digital bukan hanya mengenalkan masyarakat pada media digital atau perangkat digital berbasis  internet semata, tetapi juga menganalisis, mengintegrasikan, mengelola, dan mengevaluasi informasi teknologi digital dalam proses pembelajaran. (esy/jpnn)

Ketum PB PGRI Unifah Rosyidi menyoroti posisi guru yang selalu jadi kambing hitam saat mutu pendidikan anjlok


Redaktur : Friederich
Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News