Sabtu, 18 November 2017 – 04:05 WIB

Studio Seni di Melbourne Beri Peluang Pengungsi Aktualisasi Diri

Jumat, 03 November 2017 – 18:00 WIB
Studio Seni di Melbourne Beri Peluang Pengungsi Aktualisasi Diri - JPNN.COM

Clement Wetnhiak dan Angelo Duot telah bermain musik bersama sejak mereka masih kecil.

Mereka membeli gitar pertama mereka bersama, belajar nada pertama mereka bersama, dan bermimpi menjadi musisi sukses bersama.

Dua sepupu itu lahir dari orang tua asal Sudan Selatan di sebuah kamp pengungsi Kenya, dan datang ke Australia ketika masih kanak-kanak.

Kini, di usia awal 20-an tahun, mereka telah membentuk sebuah band, Travelers, dengan bantuan Studio Artful Dodgers -sebuah pusat musik dan seni di kalangan remaja berisiko dan pengungsi -di wilayah Collingwood, negara bagian Victoria.

Wetnhiak mengatakan, pertemuan pertamanya dengan Studio Artful Dodgers terjadi melalui pertemuannya dengan legenda musik Australia -Paulie Stewart, yang kini bekerja sebagai mentor di sana.

"Pertama kali saya mengetahui studio itu, kami sedang mengamen di Stasiun Melbourne Central dan Paulie mendatangi kami lalu berkata, 'Oh, saya suka suara Anda,' dan kami bergumam, 'Siapakah orang ini?',” ujarnya.

"Kemudian ia mengundang kami ke studio itu dan kami merekam lagu pertama kami, sejak saat itu Paulie telah membimbing kami, mengenalkan kami pada pertunjukan dan memberi kami kesempatan untuk menampilkan suara kami."

Stewart, yang juga vokalis utama band rock populer di era 80an -yakni Painters and Dockers, ingat akan pertemuannya dengan Clement dan Angelo.

"Mereka sedang mengamen dan saya berjalan melewati mereka – pasangan orang Sudan yang besar. Anda biasanya tak mendengar orang-orang Sudan bermain musik akustik -biasanya hip hop," katanya.

"Jadi, saya bilang, 'Oh, kalian hebat. Kalian harus masuk ke studio' Mereka menatap saya seperti membatin, 'Orang ini mencurigakan'.

"Mereka tidak mempercayai saya sama sekali, tapi akhirnya saya berhasil membujuk mereka masuk ke sana, dan mereka masuk dan melihat beberapa teman asal Sudan mereka di sini dan mereka akhirnya bergabung."

Tak ada tekanan dan persaingan

Dari permulaannya di tahun 1997, Studio Artful Dodger kini telah membantu setidaknya 200 orang muda yang kurang beruntung dalam setahun.

Sebagian besar di antara mereka sedang berjuang mengatasi masalah, termasuk kecanduan sabu dan penyalahgunaan zat lainnya, tunawisma atau mengalami gangguan jiwa. Beberapa dari mereka adalah pengungsi, beberapa lainnya baru saja dilepaskan dari penjara.

Dijalankan oleh kelompok Pelayanan Sosial Jesuit, studio tersebut mendukung anak-anak untuk mewujudkan ambisi kreatif mereka sambil juga menghubungkan mereka dengan layanan pendukung yang lebih luas.

Studio itu juga menggelar dialog-dialog di sejumlah sekolah Australia, dan memberi kesempatan bagi para peserta untuk merekam album, melakukan pertunjukan dan melakukan pameran seni.

Skip YouTube Playlist

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Musisi terkenal seperti Paul Kelly, Jesse Hooper, Clare Bowditch dan Angie Hart telah bekerja atau menjalankan sejumlah proyek di studio tersebut.

"Banyak anak muda dengan pendidikan formal, mereka sedikit terjerembab," kata Stewart.

"Mereka tidak menyukai karakter sekolah, jadi mereka datang ke sini dan biasanya mereka dilepaskan dari sistem pendidikan saat mereka datang kepada kami dan kami hanya memberi mereka kesempatan.”

"Kami punya studio musik di sini, dan fasilitas seni, dan kami membuat mereka mengekspresikan diri mereka sendiri. Sungguh menakjubkan betapa mereka bisa mendapatkan akses ke hal-hal semacam itu dan lalu cerita-cerita dari mereka-pun muncul.”

"Belajar musik dan seni juga membantu pendidikan formal mereka karena mereka belajar menghitung dan membaca dan hal semacam itu."

Yang paling penting, menurut Stewart, tempat itu memberi kaum muda terpinggirkan sebuah rasa kebersamaan dan rasa memiliki.

"Tidak ada tekanan di sini, Anda tak harus lulus, tak ada persaingan," kata Stewart.

"Dan yang benar-benar indah adalah semua anak muda mulai saling mendukung dan mereka berubah menjadi keluarga kecil yang saling mengawasi satu sama lain, dan saling mendukung dalam pameran dan pertunjukan mereka.”

"Ini memberi mereka keluarga dan sesuatu yang sangat praktis dan kreatif untuk dilakukan."

Tak semuanya terlibat kekerasan

Pekan ini, Studio Artful Dodgers merayakan ulang tahun mereka ke 20.

Kelompok Layanan Sosial Jesuit berharap bisa menggunakan kesempatan ini untuk menarik dana baru guna menutupi biaya operasi Studio sebesar $ 300.000 (atau setara Rp 3 miliar) per tahun.

"Ini seperti Studio Artful Dodgers memakai alat bantu pernafasan selama 20 tahun," ujar Andrew Yule, direktur komunikasi strategis di Layanan Sosial Jesuit.

"Ini adalah layanan yang sangat penting bagi banyak orang, tapi kami merasa situasinya tidak cocok dengan model pendanaannya.”

"Kami cukup beruntung memiliki dana dari pemerintah tapi itu hanya mencakup sekitar setengah biaya untuk menjalankan Studio Artful Dodgers, jadi kami sangat bergantung pada komunitas yang lebih luas untuk mendukung beberapa layanan tersebut, dan memberikan dana yang harus kami jaga agar tetap terbuka.”

"Agar anak muda bisa memiliki layanan yang bisa mereka andalkan, mereka tahu mereka bisa muncul kapan saja ketika mereka perlu menjangkau dan terhubung dengan orang-orang dan menangani beberapa masalah dalam kehidupan mereka."

Wetnhiak, yang juga bekerja penuh waktu sebagai satpam, mengatakan bahwa studio tersebut telah memberi dukungan praktis kepada bandnya seperti memberi kesempatan tampil, akses ke studio rekaman, pendanaan untuk dicatat, dan bantuan transportasi.

Ia menyoroti pertunjukan baru-baru ini di Balai Kota Melbourne, dan mengatakan bahwa Studio Artful Dodgers bahkan telah membantu kebutuhan peralatan seperti mengganti senar gitar yang rusak.

Tapi yang terpenting bagi Wetnhiak, studio tersebut telah memberi bandnya platform untuk terhubung dengan komunitas yang lebih luas melalui musik.

"[Kami suka menyanyi tentang bagaimana] hidup terasa berbeda di kampung halaman dan bagaimana kehidupan di Australia," katanya.

"Kami berbicara tentang perubahan dan peluang yang diberikan kepada kami oleh Australia dan orang-orang di sekitar kami.”

"Jika Anda diberi platform untuk menjadi seorang musisi, Anda bisa membicarakan beberapa masalah. Seperti halnya media memandang beberapa orang Afrika, dan cara mereka memandang orang dengan warna kulit berbeda.”

"Jadi, ini memberi kami jalan untuk menunjukkan bahwa tidak semua orang di sini terlibat dalam kekerasan dan tidak semua orang melakukan hal-hal buruk.”

"Kami menyukai musik, itulah yang kami lakukan di waktu senggang kami, jadi kami memberi kesempatan untuk menunjukkan diri."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar